Postingan

Menampilkan postingan dari November, 2025

Setia

“Apakah kau tidak merasa sepi?” Ruang itu lengang. “Tidak.” Jawabku, mantap, kosong. “Bagaimana bisa, padahal kau sendiri?” Ia masih memandang penarasan, curiga, khawatir. “Karena aku setia. Aku setia pada kesendirian. Karena kesetiaan tidak akan pernah membiarkan sepi menghinggapi; meski sendiri.”

Rantai

“Untuk menjadi seorang penulis, kamu harus menulis. Untuk menulis, kamu harus membaca.” Ia menyimak takzim. “Untuk menjadi seorang pemenang, kau harus belajar.” Ia mendengar hormat. “Untuk menjadi seorang anak, kau harus taat. Untuk menjadi seorang murid, kau harus hormat. Untuk menjadi seorang teman, kau harus erat. untuk menjadi seorang kekasih, kau harus pikat. Untuk menjadi seorang hamba, kau harus ingat.” Ia mengangguk khusyu. “Lalu untuk menjadi seorang manusia, kamu harus menjadi baik.” Ia terdiam. Lalu, angkat suara, “Baiklah, aku tau. Tapi maksudku, kenapa hidup ini terlalu banyak harus?”  

Telak

Hingga di suatu hari, saya percaya bahwa ucapan itu bisa berubah menjadi sebuah pukulan yang keras, sebuah panah api yang mampu menghujam dengan panas. Saya, telak. “Menulis itu bukan soal mood! Menulis itu soal paksaan! Yang dibangun itu bukan tulisannya, tapi habitmu! Kebiasaan menulismu! Setelah kebiasaan menulis itu telah terbangun, nanti tulisanmu yang akan membangun dirimu! Jangan jadi penulis cengeng!”  

Dobrak

Suatu malam, ia mendobrak mimpiku. “Hah, kenapa? Kok kamu di sini?” Tanyaku bingung, tentu kaget. Alur mimpi itu terhenti. “Ada juga kamu yang ngapain sama perempuan lain, hah?! ” Jawabnya berapi-api, alisnya berasap, menunjuk seorang perempuan -yang, ya, cukup cantik- di sebelahku; salah satu tokoh absurd di mimpiku yang entah siapa. “Lah nggak tau, kan mimpi! aku mah ngikut aja.” Mendengar jawaban ultra logic itu, ia semakin berapi-api. Bagai sumbu, alisnya kini mulai memercik. “Ngikut aja.. Ngikut aja.. Dasar cowok nggak punya pendirian!" Ia lantas menjewer telingaku, “Ayo pindah ke mimpiku! Aku sudah siapkan makan malam kesukaanmu; kita nyalakan hangat di taman kata. Mimpi aneh kayak gitu aja segala diikutin!” “ Lah siapa yang aneh? Tinggal bilang kangen, apa susahnya sih? Maksa banget. malah ngomel-ngomel. Ganggu mimpi orang aja, huh! ” Celetuk semak-semak batinku yang paling purba, berlumut, membatu, memfosil; mana berani?!

Cerita

Tiada rasanya suatu hal yang tampak lebih sederhana dan memeluk, selain sebuah kegiatan yang bernama “bercerita”. Sadarkah kita, bahwa hidup ini selalu diliputi dan dikelilingi dengan hal-hal keren dan luar biasa? Tentang beruntung dan sialnya, tawa dan tangisnya, di setiap momen dan orangnya, untuk semua kesan dan pesan yang rasanya sangat disayangkan sekali jika hanya sia-sia menjadi sampah waktu tanpa sekalipun dihangati dan dihargai, diwarnai dan dimaknai, untuk ditebar, berbagi dengar, pada telinga-telinga yang hampa dan liar. Tak apa-apa, berceritalah! Mengetuk atau mengutuk, bercerita adalah bentuk menjaga kewarasan dari diri manusia yang manusiawi. J.S. Khairen mengatakan, “Bercerita itu obat. Mendengarkan juga obat. Hebat kan? Satu cerita, obat untuk dua orang. Si pencerita, Si pendengar.” Selain itu, untuk beberapa ikat cerita dan peluk dengar yang menyembuhkan, anak-anak adalah kapsul obat yang paling mujarab, dokter spesialis yang paling profesional, untuk wajah-w...

5B

Pernahkah kamu di suatu hari, membuka mata dari tidur, merasa sangat amat bersemangat untuk segera bangun dan mandi, lalu bersiap dan berangkat sekolah; bertemu dengan guru dan teman; juga bermain dan jajan? Apalagi sekolahmu memiliki 24 ekstrakulikuler dengan setumpuk prestasi yang membumbung menggunung tak terhitung; sebuah sekolah yang keren. Dari sekian banyak ruang, kelas itu penuh cahaya. Dari setiap pasang mata yang berbinar memancar, dari wajah-wajah ceria bersahaja dan senyum ranum yang tak akan mugkin tereja; kesempatan membawamu bertemu dengan para bintang, untuk mencicip sedikit dari cercah benderang. Apa hal yang membuat kita sebagai orang dewasa merasa lebih hebat dan keren dari mereka yang hanya sekedar seorang anak-anak, yang padahal mereka adalah sekelompok manusia yang paling banyak bertanya dan ceria?! Kenapa kita dulu sangat ingin cepat-cepat tumbuh besar dan dewasa?! Ya, meskipun perubahan adalah keniscayaan dan kita tidak bisa mengelak atau bahkan menola...

Payah

Dari segala hiruk pikuk percintaan makhluk bumi yang keren-keren, izinkan tulisan ini berceloteh sekelumit menyoal cinta dari perspektif mahasiswa semester7 yang, ya, biasa-biasa aja. Alih-alih membangun istana megah dan mewah, bagi saya, jatuh cinta tak ubahnya seperti membuka suatu ruang kecil nan sederhana; di sudut hati. Sebuah ruang yang bisa senantiasa kita datangi, untuk menyimpan segala hal tentang orang yang kita cintai: sekelumit kesibukan yang ia geluti, makanan apa yang ia sukai, tempat mana yang ia datangi, buku apa yang sedang ia baca, project kecil apa yang sedang ia bangun, juga cara ia berbicara dan menyapa, atau malah senyum manisnya yang dengan sengaja kita curi secara diam-diam. Semua bayang-bayangnya, juga harapan-harapan kita, terpatri dalam warna-warni interior, menjadi lukisan atau tulisan dinding hiasan, juga mekar bunga dan vasnya yang mengharum; membuat ruang itu semakin nyaman untuk disinggahi, untuk mencicip syahdu dari cinta yang paling sunyi. Dala...

Hayat

Hal apa yang lebih menyebalkan dari hidup yang luar biasa ini, selain kenyataan bahwa waktu punya masa tenggang? Bahwa kita ada batas takdir usia; kita akan dipeluk oleh kematian. Semenggelegar apa ngorok pulasmu, semendentum apa sendawa kenyangmu; kasur empukmu, makanan lezatmu, jika dinikmati sambil memikirkan: “Dalam keadaan seperti apa kita akan meninggal?” Pasti akan terasa kurang nikmat. Bahkan, semanis-manisnya es teh manis — yang meskipun tetap kalah manis kalau dibanding senyumannya — jika diminum sambil membayangkan day 1 jadi pocong in the kubur , pasti jadinya ‘es teh menolak manis’. Mau seberapa pede Xi Jinping dan Putin bahas transplantasi organ yang, katanya , mampu memperpanjang hidup sampai 150 tahun, saat waktunya is dead , ya tetap is dead . Karena yang namanya kematian itu keniscayaan. Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan kematian. Dinotice kayak gini, apa yang harus dilakukan? Selain do’a siang-malam, panjang umur juga perlu diusahakan dengan di...

Boikot

Tulisan ini terlahir dari kesedihan atas banyak hal, atas segala ramai-ramai dan berita yang tidak mengenakkan. Tentang siapa yang benar, siapa yang salah. Siapa yang baik, siapa yang jahat: untuk semua tuduh-tuduh yang menyebalkan. Tapi bagaimanapun, kita tetap harus bersikap. Mau tak mau, kita harus berkenal realita, untuk bertindak dan berpihak, untuk berpendapat dan tepat. Terlebih, ini tentang arti diri. Semua hal tentang santri, kiai, dan pesantren, kini menjadi pembahasan yang kian hari kian pelik dan mencekik; merupakan salah satu topik dari sekian banyaknya masalah di negara ini yang bisa dan perlu dibahas, meski belum tentu becus dan tuntas. Terkhusus santri yang seakan menjadi serpih bara, kiai dan pesantren dianggap sebagai kobar apinya atas tuduhan dan narasi-narasi kebencian yang beredar saat ini. “Kiai feodal!” “Pesantren perbudakan!” Jahat sekali ucapan itu. Sudah banyak sekali counter narasi yang disampaikan oleh para civitas pesantren atas segala hal...

Payahh

‎ Sebenarnya tulisan ini masih ada sangkut pautnya dengan tulisan di postingan sebelumnya. Jika sudi dan berkenan, kalian bisa membacanya terlebih dahulu; agar tulisan ini tidak timbul kesalahpahaman dan kesan pembelaan. ‎‎ Bisa dipastikan, tidak ada dari kita yang ingin payah dalam hidup. ‎ Dari hidup yang tidak membiarkan kita untuk menyerah, memaksa berjuang sampai lelah, jika pada akhirnya kenyataan mengharuskan kita untuk lerah: kita kalah, kita payah. ‎‎ Semua sebab-akibat, dari indikasi hingga implikasi, tentu banyak hal yang mempengaruhi hasil. Terkhusus jika membandingi soal cinta, jelas sudah saya mengaku payah. ‎‎ Dengan latar belakang yang seperti itu, maka timbul pertanyaan dari rumusan masalah yang harus dijawab. ‎ Setidaknya sederhana: ‎ “Apakah orang payah boleh jatuh cinta?” dan “Bagaimana cara jatuh cinta dengan payah?” ‎ ‎ Adalah do’a. ‎ Ya, dengan do’a. ‎ Kurang payah apa dari orang yang jatuh cinta dan hanya bisa melampiaskannya lewat do’a? ‎ M...

Laki

Menjadi laki-laki adalah takdir yang paling berani. Dengan segala hal yang harus disyukuri, menjadi laki-laki memang hanya tentang berani: tak ubahnya seekor singa yang gagah dengan gelar ‘raja rimba’, gelar yang belum tentu ia ingin. Ia mengaum di luasnya padang sabana, untuk dipaksa bertarung, untuk terus hidup. Sedari dini dan sadar, laki-laki sudah dipaksa bertarung dengan stigma, stereotip, dan ekspetasi gender, bahwa “Jadi laki-laki jangan cengeng!” laki-laki harus begini – laki-laki nggak boleh begitu , seakan ia makhluk kasar yang tidak memilki perasaan: yang tidak butuh atau bahkan tidak boleh. Lalu kian besar, dengan kenyataan seperti itu, laki-laki terus bertumbuh dengan berbagai macam tantangan dan rintangan yang seolah sah-sah saja dilimpahkan seenak jidat: memang sepantasnya, memang seharusnya. “Toh emang laki-laki kan kuat dan pemberani!” Hingga, yang dimaksud dari ‘hidup adalah perlombaan’ itu benar-benar dimulai: Dari pendidikan dan karir yang dikejar; ...

Pusat

Saya cukup terkejut —dan tentu tersinggung— untuk seseorang, akan aktivitas yang saya geluti di forum kelas kepenulisan. Ia berseoroh: “Ikut kelas begitu tuh untuk apa sih? Apa yang harus dipelajari? Kalau buat nulis, kan dari TK juga sudah diajari. Nulis kan gitu-gitu doang?!” Wowww! Amazing! Murni orang itu bertanya atau ada maksud lain, bodoh atau cerdasnya, opini itu benar-benar liar dan menyebalkan: kok bisa seperti itu jalan pikirnya? Mari sedikit kita bahas dengan hati yang lapang! Guru saya pernah bilang, “Kalau sekedar hidup, monyet juga hidup. Kalua sekedar kerja, kerbau juga kerja.” Lalu, untuk sekedar menulis, benar , anak TK pun bisa. Nggak perlu belajar jauh dan ikut kelas kepenulisan. Tapi maaf, ini bukan hanya ‘sekedar’. Menulis itu seni. Seni itu menghasilkan karya. Karya itu bukan usaha main-main tanpa jalan pikiran, perasaan, dan keterampilan. Mungkin saja untuk sekedar bisa menulis. Bisa saja kita mengupayakan untuk menulis yang rapih dan ...

Teman

Sejujurnya, saya tidak suka membaca. Sama saja seperti apa yang kalian anggap, bahwa membaca adalah kegiatan aneh yang mengundang mumet dan jlimet. Pusing. Membosankan. Buang-buang waktu. Aneh bisa saya bilang, terlihat dari orang yang terpaku-terduduk-tertunduk terdiam berjam-jam seperti patung dari kegiatan yang disebut membaca itu. Tidak ada bentuk kinestetik-produktifitasnya sama sekali. Mana unsur sosialnya? Kok ada orang yang rela buang-buang waktu untuk memandangi lembaran kertas penuh huruf jika pada akhirnya hanya menguap ngantuk yang tak berkesudahan?! Aneh! Begitulah kira-kira isi pikiran anak kelas 2 SD, di 14 tahun yang lalu, yang segera sadar dari keterbodohan itu setelahnya; tidak lagi, tidak akan. Sebenarnya tidak ada alasan yang pasti dari ketersadaran tersebut. Setidaknya bagi saya: buku itu ganteng! Entah dengan padanan kata apa, ganteng atau malah cantik ; bagi saya, buku selalu punya pesonanya tersendiri! Apapun, siapapun, yang bersama buku akan teras...