Cerita
Tiada rasanya suatu hal yang tampak lebih sederhana dan memeluk, selain sebuah kegiatan yang bernama “bercerita”.
Sadarkah
kita, bahwa hidup ini selalu diliputi dan dikelilingi dengan hal-hal keren dan
luar biasa? Tentang beruntung dan sialnya, tawa dan tangisnya, di setiap momen
dan orangnya, untuk semua kesan dan pesan yang rasanya sangat disayangkan
sekali jika hanya sia-sia menjadi sampah waktu tanpa sekalipun dihangati dan
dihargai, diwarnai dan dimaknai, untuk ditebar, berbagi dengar, pada
telinga-telinga yang hampa dan liar.
Tak
apa-apa, berceritalah!
Mengetuk
atau mengutuk, bercerita adalah bentuk menjaga kewarasan dari diri manusia yang
manusiawi.
J.S.
Khairen mengatakan, “Bercerita itu obat. Mendengarkan juga obat. Hebat kan? Satu
cerita, obat untuk dua orang. Si pencerita, Si pendengar.”
Selain
itu, untuk beberapa ikat cerita dan peluk dengar yang menyembuhkan, anak-anak
adalah kapsul obat yang paling mujarab, dokter spesialis yang paling profesional,
untuk wajah-wajah antusias ingin tau atau sekedar riang tawa malu-malu.
Cerita,
bercerita, mendengar cerita, membaca dan menulis cerita memang harus dibiasakan
sejak dini.
Bercerita
merupakan pondasi awal bagi anak dalam menumbuhkan, mengembangkan, dan merawat
imajinasi. Hal itu menjadi penting dalam masa belajar dan bermainnya. Juga
perihal mengasah pola pikir, melembutkan perasaan, menjalin interaksi sosial,
menjadi dampak yang nyata dalam aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik.
Anak harus
mempunyai kepercayaan diri.
Anak harus
mempunyai rasa percaya pada dirinya sendiri; sebelum mempercayai dan dipercayai
orang lain.
Bagi yang merasa tidak setuju dan membantah, silahkan
saja. Saya tidak memaksanya. Lagi pula setiap orang memiliki jalan percayanya
masing-masing, kan? Setiap orang harus mengusahakan jalan percayanya
masing-masing, kan?
Satu hal
yang harus dicatat, bercerita bukan soal aktual dan faktual. Dalam konsepnya,
bercerita hanya perlu seru dan memberi nilai.
Jadi orang
jangan serius-serius amat: sini cerita!
Komentar
Posting Komentar