Postingan

RTJ

Hari ini jendela media sosialku sedang ramai oleh pemberitaan wafatnya vokalis dari band Romi & The Jahats. Hal itu sontak menjadi pembicaraan di kalangan teman-teman yang mengikuti perjalanan karir musiknya. ‎jujur, saya tidak tidak begitu tau dan memberi perhatian khusus untuk musisi yang kerap disapa babeh oleh penikmat musiknya yang jutaan atau bahkan ratusan ribu itu. Tapi bukan berarti sama sekali asing tanpa pernah mendengar lantunan lagu-lagunya yang dinyanyikan oleh suara ala kadar teman-teman saya, bahwa kita tau belantika semesta musik begitu luas dengan penyanyi, judul lagu, aransemen, dan dampaknya. Kita dibebaskan untuk mencicipi dan hidup di dalamnya. ‎Meski sekilas saya muncul kagum untuk musik-musik pendongkrak dan pendobrak semangat yang dinyanyikan babeh Romi, juga style kopiah yang memberikan arti keren yang lain di hati saya, berita kematian tetaplah menyedihkan. ‎Tapi satu hal yang ingin saya tulis, adalah soal ucapan belasungkawa yang disampaikan oleh teman-t...

Bising

Dengan alasan apa aku harus mewanti-wanti melarang bising mulutmu untuk berhenti cerewet, berceloteh, berceracau; menembakan rentetan butiran kata dan menghantam gendang telinga dengan membabi buta bertubi-tubi porak poranda hancur lebur luluh lantak remuk redam meledak berkeping-keping? Apa aku jadi berhak untuk tak lagi mencintaimu? Setiap lisan punya batas porsi takdirnya masing-masing, bukan? Cuma maksudku, tak melulu dan selalu untuk hanya bising soal skincare dan dimsum mentaimu, atau keluh dan kesalmu sehari-hari; tapi mari mulailah bising cerewet, berceloteh, dan berceracau soal buku dan membaca, juga pemerintah dan negara yang sialan ini; dengan sekuat tenaga, sampai akhir batas kemampuan?! Atau sesekali soal sepak bola pun tak apa. Atau langsung to the point soal emyu? Haha

Setia

“Apakah kau tidak merasa sepi?” Ruang itu lengang. “Tidak.” Jawabku, mantap, kosong. “Bagaimana bisa, padahal kau sendiri?” Ia masih memandang penarasan, curiga, khawatir. “Karena aku setia. Aku setia pada kesendirian. Karena kesetiaan tidak akan pernah membiarkan sepi menghinggapi; meski sendiri.”

Rantai

“Untuk menjadi seorang penulis, kamu harus menulis. Untuk menulis, kamu harus membaca.” Ia menyimak takzim. “Untuk menjadi seorang pemenang, kau harus belajar.” Ia mendengar hormat. “Untuk menjadi seorang anak, kau harus taat. Untuk menjadi seorang murid, kau harus hormat. Untuk menjadi seorang teman, kau harus erat. untuk menjadi seorang kekasih, kau harus pikat. Untuk menjadi seorang hamba, kau harus ingat.” Ia mengangguk khusyu. “Lalu untuk menjadi seorang manusia, kamu harus menjadi baik.” Ia terdiam. Lalu, angkat suara, “Baiklah, aku tau. Tapi maksudku, kenapa hidup ini terlalu banyak harus?”  

Telak

Hingga di suatu hari, saya percaya bahwa ucapan itu bisa berubah menjadi sebuah pukulan yang keras, sebuah panah api yang mampu menghujam dengan panas. Saya, telak. “Menulis itu bukan soal mood! Menulis itu soal paksaan! Yang dibangun itu bukan tulisannya, tapi habitmu! Kebiasaan menulismu! Setelah kebiasaan menulis itu telah terbangun, nanti tulisanmu yang akan membangun dirimu! Jangan jadi penulis cengeng!”  

Dobrak

Suatu malam, ia mendobrak mimpiku. “Hah, kenapa? Kok kamu di sini?” Tanyaku bingung, tentu kaget. Alur mimpi itu terhenti. “Ada juga kamu yang ngapain sama perempuan lain, hah?! ” Jawabnya berapi-api, alisnya berasap, menunjuk seorang perempuan -yang, ya, cukup cantik- di sebelahku; salah satu tokoh absurd di mimpiku yang entah siapa. “Lah nggak tau, kan mimpi! aku mah ngikut aja.” Mendengar jawaban ultra logic itu, ia semakin berapi-api. Bagai sumbu, alisnya kini mulai memercik. “Ngikut aja.. Ngikut aja.. Dasar cowok nggak punya pendirian!" Ia lantas menjewer telingaku, “Ayo pindah ke mimpiku! Aku sudah siapkan makan malam kesukaanmu; kita nyalakan hangat di taman kata. Mimpi aneh kayak gitu aja segala diikutin!” “ Lah siapa yang aneh? Tinggal bilang kangen, apa susahnya sih? Maksa banget. malah ngomel-ngomel. Ganggu mimpi orang aja, huh! ” Celetuk semak-semak batinku yang paling purba, berlumut, membatu, memfosil; mana berani?!

Cerita

Tiada rasanya suatu hal yang tampak lebih sederhana dan memeluk, selain sebuah kegiatan yang bernama “bercerita”. Sadarkah kita, bahwa hidup ini selalu diliputi dan dikelilingi dengan hal-hal keren dan luar biasa? Tentang beruntung dan sialnya, tawa dan tangisnya, di setiap momen dan orangnya, untuk semua kesan dan pesan yang rasanya sangat disayangkan sekali jika hanya sia-sia menjadi sampah waktu tanpa sekalipun dihangati dan dihargai, diwarnai dan dimaknai, untuk ditebar, berbagi dengar, pada telinga-telinga yang hampa dan liar. Tak apa-apa, berceritalah! Mengetuk atau mengutuk, bercerita adalah bentuk menjaga kewarasan dari diri manusia yang manusiawi. J.S. Khairen mengatakan, “Bercerita itu obat. Mendengarkan juga obat. Hebat kan? Satu cerita, obat untuk dua orang. Si pencerita, Si pendengar.” Selain itu, untuk beberapa ikat cerita dan peluk dengar yang menyembuhkan, anak-anak adalah kapsul obat yang paling mujarab, dokter spesialis yang paling profesional, untuk wajah-w...