Postingan

Sua

Apapun yang terjadi, lebaran adalah momen bahagia. Itu kenapa lebaran disebut dengan hari raya dan kemenangan. Idul Fitri, kembali suci: atas segala hal baik yang kita lakukan di bulan Ramadhan. Tentu cara menyikapinya, patutnya kita untuk berbahagia dan terus berbuat baik. Berbahagia, sebagaimana yang sudah-sudah, lebaran memang harus berbahagia. Semua hal yang menjadi komponen darinya memang diperuntukkan dan mendukung untuk timbul bahagia itu. Selain karena konsekuensi agung bahwa kita kembali suci dan bersih sebab Ramadhan, di sisi lain, bahagia turut andil. Bagaimana kita tau, bahwa lebaran adalah momen penunaian rindu-rindu. Unsur perikemanusiaan di segala aspek, memberi kesempatan untuk sibuk pekerja dan industri, kurung santri dan pesantren, pisah perantau dan kota, hingga secercah kebersamaan yang berharap utuh. Dalam kesederhanaan, hangat keluarga begitu didamba: begitu berarti dan berharga. Hingga, apa yang salah bercapek-capek berkerja siang malam dan berlama mace

Ketupat

Sudah seharusnya suka cita di hari raya, hari di mana merayakan kesenangan, kemenangan. Tapi, nyatanya, hidup perlu gerak. Lihat saja orang itu! Bodoh! Nggak tau budi! Gila dunia! Mungkin itu sedikit dari pandangan sumpah serampah orang setelah sholat ied dan berhangat ria dengan riuh sanak saudara, ia malah berjalan tak acuh mendorong gerobak yang dipenuhi pisang menggantung. Sesekali, “Pisang…Pisang…” dalam teriaknya. Di sepanjang jalan sepi itu, ia letih nggak tersampaikan. Bayangkan saja, harga dirinya sebagai kepala keluarga benar-benar dipertaruhkan. Ia paksa tega meninggalkan istri dan anak-anaknya yang masih muram karena nggak dapat mengenakan baju baru di hari raya. Habis anak-anak itu itu dicaci maki kawan sebayanya. Hilang muka istrinya yang harus mengenakan dress lusuh tahun lalu. Di bawah rimbun pohon rambutan, ia terduduk menahan beban malu itu. “Tuhan, apa yang harus kurayakan di hari raya ini? Mana bahagiaku?” Camuk perasaan itu membuatnya terpejam. Ia kal

Leukosit

Cukup bersyukur alhamdulillah atas segala nikmat dan anugerah yang telah Allah berikan kepada kita. Terutama, lebih-lebih perihal kesehatan yang nggak bisa dibandingkan dengan apapun. Berharga di atas segala pemberian-Nya. Dengan itu, sudah seharusnya syukur ini pun disambut bahagia yang penuh, kenyataannya bahwa ibu gua udah keluar dari rumah sakit dan boleh istirahat di rumah: setelah hampir 1 minggu opname. Hari-hari belakangan, sudah barang tentu adalah hari kelu. Pikiran, perasaan, atau bahkan lidah yang memberikan empati atas anak mana yang nggak kaget nggak risau dengar ibunya masuk rumah sakit? Hanya kita yang tau ibu kita, hanya kita yang punya perasaan itu. Hingga akhirnya, semua diusahakan berjalan semestinya, apa adanya. Keluarga, tetangga, hingga teman lama. Nggak mengecualikan perihal 4 anak lelakinya yang kini disatukan dengan momentum libur, lalu kabar sakit ini. Meski abang pertama nggak bisa intensif menemani karena sudah bedanya rumah dan kerja, ia tetap melu

Risol

Bagi sebagian orang, Ramadhan adalah momen yang ditunggu-tunggu. Momen yang digunakan semaksimal mungkin untuk bertemu dan rindu-rindu. Suami pada istri, anak pada orang tua, saudara pada keluarga, teman pada sebaya, dan kekasih pada kekasih. Luang untuk mereka yang tersayang. Sulit dituliskan dengan kata-kata untuk hangat perasaan kebersamaan saat waktu sahur atau berbuka. Kita berbincang untuk hal-hal ringan dan memeluk. Basa-basi, tanya kabar, dan saling menawarkan tambah nasi, lauk-lauk, dan gorengan. Tertawa makin tambah merekah saat Si Kecil malah makan tersumrah-sumrah sampai belepotan mulutnya. “ Bu, masakan ibu enak. Besok masak ini lagi ya, bu? ” Ucapnya menggemaskan. Ibu? Hangat? Haha. Lihat saja Si Udin yang maghrib baru bangun tidur. Tok, tok, tok adzan, tanpa cuci tangan , dia langsung makan. Din…din… Dasar s antri ! S ehat-sehat di pondok . Senang-senang. Semoga. Selamat Ramadhan.

Beduk

Dari subtansi dan esensi, pesantren tidak terlepas dari 2 unsur sentral: budaya dan pendidikan. Begitu pun Ramadhan, pasti meliputi 2 aspek: ibadah dan ganjaran. Oleh karena itu, bagi santri, ini adalah momennya: menjalani Ramadhan di pesantren. Santri: Hidup dalam kebudayaan penuh kesadaran dan kesederhanaan, membaur dalam kebersamaan, tentunya penuh ta’zhim pada ilmu dan ilmuan. Menyenyam pendidikan formal-non formal, ilmu agama atau dunia, tetap saja, pesantren menjadi lembaga pendidikan tertua dengan peran yang invloed. Ramadhan, bulan ibadah. Terutama puasa. Sebagaimana berkaca pada dawuhnya Buya Husein dalam bukunya, Islam, “puasa sepenuhnya merupakan momen spiritualitas dan cara pengabdian kepada Tuhan paling eksklusif.” Sebagaimana haditsnya, Ramadhan memang bulan kita selaku umat Nabi Muhammad! Itu mengapa, setiap hal sederhana akan dipandang istimewa dan luar biasa ketika Ramadhan. Termasuk ganjaran itu sendiri. Jadi nggak usah heran untuk pengeksploitasi dalil ti

Belakang

Apapun yang terjadi, harus diterima dan disyukuri. Dalam hal pesantren, santri, dan liburan: banyak hal yang terbahas. Mungkin semua menarik. Tapi bagaimanapun, memilih nahun atau pulang, pondok atau rumah, ini menjadi hal rumit bagi sebagian orang. Meski banyak sekali narasi materi, serta contoh dan bukti perihal nahun yang luar biasa. Bisa ditarik dan dalam naung tirakat, santri ya seharusnya tirakat. Sungguh beruntung santri yang mengikuti jalan aur kiainya, para ulama sholeh.  Tapi, bukan berarti memilih atau dipaksa pulang sekalipun, -tanpa kebaikan. Semua pasti ada landasan alasan. Dengan begitu, gua mencari argument penguat.  Nggak perlu jauh-jauh dan mengaku, dari telinga yang gua dengar, guru gua pernah bilang: “Kalian, jika ada kesempatan pulang, ya pulanglah! Mumpung masih ada orang tua, terutama ibu.” Ucap Habib Muhammad bin Abu Bakar Al-Habsyi. “Pulang! Ngapain sih nggak pulang? Emang ketemu orang tua, lihat wajah, cium tangan, dan nyenengin hati orang tua, nggak barokah?”

Depan

Pertama, segala sesuatu itu diciptakan berpasang-pasangan. Kedua, nggak mungkin Allah hanya memberi senang aja. Ketiga, pasti ada maksud di setiap hal. Di detik ini gua belajar. Waktu liburan, seharusnya libur. Seharusnya sih gitu. Meskipun kenyataannya tetap ada kerjaan di waktu libur dan nggak pulang ikut rombongan. Sejujurnya, gua pengen tetap di pondok. Nggak pulang dan memilih lebaran di sini. Tentu semua punya alasan, tentu semua punya tujuan. Tapi, apa? Di saat yang tinggal menghitung hari untuk libur itu dan mulai mengaktifkan alasan juga tujuan, maklumat itu diputuskan: GUA HARUS PULANG! Dengan tanpa menimbang pentingnya pembahasan, "kenapa takut pulang?" dan "ngapain di pondok?" Dirasa emang nggak perlu dibahas, gua lebih tertarik ke hal lain. Mungkin suatu pencapaian penting dalam hidup, jika kita menemukan tantangan baru dan ternyata mampu. Sejujurnya gua baru kali ini naik bis sendirian. Karena memang, hidup di keluarga yang sangat menjunjung tinggi kep