Postingan

Abadi

Dari kerja keras usaha mengejar sampai ke Semarang untuk pertemuan pertama saya dengan Pasar Literasi, kali ini malah menyapa Kediri. Bertempat di Kediri Mall, saya tidak bisa berleluasa waktu karena durasi maksimal hanya sampai tanggal 9 mei. Hal menyebalkan yang menghambat saya untuk menyapa kembali dengan Pasar Literasi adalah soal ketahanan manejemen yang harus tetap balance dari turbulensi akhir bulan. Dan hal itu beru terwujud di awal bulan. Sebenarnya niat awalnya ya mencari buku, belanja buku bulanan. Itu kenapa juga Gramedia tetp masuk list wajib dalam kesempatan ini. Tapi karena ada momen Pasar Literasi ini, saya menyapanya lebih dulu. Dengan Rendy, menaiki maxim, sampailah kami. Masuk. Berputar-putar. Eskalator satu ke eskalator lainnya. Bertanya satpam. Sampai. Kami menyelam, mengarungi buku demi buku yang penuh damba. Buset!   Sedari sedikit berpindah-pindah, Rendy menumpuk 4 buku di tangannya, sedari hal yang awalnya ia bilang ”lihat nanti ajal...

Abad

Hai. Ini hari pertamaku membuat klub buku. Ya, bukan hanya aku sih. Ada 3 teman, adik kelas, dan partner kerja tim yang luar biasa di Divisi Literasi. Ada Abha, Rendy, dan Rahmat. Meski baru kemarin rasanya ide-ide hebat itu tercetus, mulai dari mading, buku ajar, menejemen pustaka, dan salah satunya ya lapak pustaka. Secara garis besar, project itu bernamakan lapak pustaka. Tapi bisa juga disebut sebagai komunitas bacaan, klub buku, atau diskusi literasi yang sudah banyak dikobarkan. Ide yang kami teguhkan beberapa malam lalu di sebuah café yang menjanjikan wifi dan semeja billiard gratis itu, larut malam tak hanya menciptakan ngantuk. Tapi gagasan besar dan hebat yang justru dikandung dan lahir. Sebuah cita-cita yang hanya saya peluk sendiri di kepala saya, dan kini terwujud bersama mereka. Saya tidak mau pusing perihal konsep-konsep hebat dalam project lapak pustaka ini. Sedari hal yang hanya bertujuan menciptakan ruang baca dengan buku-buku yang boleh dipinjam dan dibaca, d...

Aba-Aba

 Aku suka membersamai hujan Di setiap rintik dan gemercik Banyak kamunya

Aba

Jika aku bisa berkenalan dengan waktu, menjalin hubungan, dan kami menjadi sepasang kekasih: aku ingin dihadiahi sekuntum takdir di hari lahirku, hari di mana cengeng dan do'a berciuman dalam suci; bahwa, jika aku terlahir laki-laki, aku ingin gagah dan berwibawa sebagai Chairil Anwar. Jika sekalipun luar biasanya aku terlahir perempuan, aku ingin tegap dan jelita sebagai Kartini-bukan seorang lelaki yang kerap dihakimi dengan tuduh keperempuanan dari sebaris nama Aqna Mumtaz Ilmi Ahbati yang penuh cinta itu. ‎ ‎Biarlah dunia ini gelap tanpa terang, biarlah seisi manusia menganggapku binatang jalang, aku hanya ingin menjadi sebaris puisi berani; yang sederhana, tulus, dan memeluk. ‎ ‎Chairil, Kartini, tetaplah hidup di hati kami.

Aa

Selama nafas hidup saya, tidak ada sekalipun sekelumit ruang untuk benar-benar membenci suatu aktivitas yang bernamakan jalan kaki. Sungguh. Malah saya begitu menyukai kegiatan ini sejak lama. Hingga akhir-akhir ini, di sepeninggal sakitnya Tejo, saya jadi sering jalan kaki. Momen itu berlangsung, untuk salah satu hal yang tersoroti. Bahwa sejatinya kita kesal dengan seorang pengemis. Ada suatu ketidaksukaan, hingga usaha menghindarkan hati. Terlebih pengemis itu tampak sehat dan mampu bekerja. “Orang masih kelihatan kuat kok malah ngemis?!” Mungkin seperti itu kira-kia kekesalan hati ini. Tapi nyatanya, untuk sebuah realita lain, untuk orang-orang yang tetap berjuang, bekerja, menolak untuk mengemis. Bukan manis, nasib malah tetap berpihak tragis. Kita tentu saja kerap menemui dan menyaksikan para pedagang dengan komoditas dagangan yang tidak begitu menjanjikan; kue basah, rujak buah, ikan hias, atau beberapa bidak lumpang batu ulegan, yang tidak sedikit mereka menjual-m...

A

“Mau sama anak saya, emang kamu punya apa?” Tanya calon ibu mertua dengan alisnya yang ditekuk, bibir merentang, menguji-sinis, meremehkan-culas. “Saya punya milku, Bu.” Selepas mendengar jawaban itu, ekspresinya seketika berubah, lalu memicingkan mata, melipat kedua tangannya tinggi-tinggi. “Rasa apa?” “Original, Bu.” Jawab lelaki itu dengan sumringah. “Halah, kok original! Kamu mau membuat kehidupan anak saya hambar, tidak ada rasa?! Hah?!!” Ekspresinya seketika kembali berubah, lebih culas dan antagonis, intonasi mengintimidasi. (Mungkin beliau member kubu Milku cokelat atau stroberi, atau juga varian baru, merie biskuit). “Bukan seperti itu, Bu. Saya menawarkan kemunian. Hidup yang murni. Organik. Untuk banyak kemungkinan opsi rasa lain yang justru akan lebih klop jika orientasi dasarnya adalah plain. Kembali lagi, semua tergantung perspektif, Bu. Tergantung mindset.” Calon ibu mertua terdiam. Tukik alisnya melemah, bibirnya menyusut, tangannya terurai, intonasinya ...

Mungkin

Ingin sekali dan sesekali, mengajakmu untuk duduk di sini. Mungkin kamu akan dilarang habis-habisan oleh orang tuamu, atau bahkan dicap nakal jika itu terjadi. Bukan bermaksud melawan, tapi bukannya bahagia kadang perlu dipetik dengan mencoba dan berani? Mari kuajakmu mencoba dan berani! Mungkin tak ada satupun lampu dari 8 tiang yang bisa kita dapatkan, tapi bukan berarti harus bergelap-gelap gulita. Cahaya rembulan masih berbaik hati untuk pecah cercahnya, hinggap temaram, meski tak benderang. Mungkin kita tak banyak bicara di awal. Aku tau, kita cukup kaku untuk memulai. Tapi setelah itu, kuyakin sudah, bentur kata tak menafikan untuk siapa yang berucap dan siapa yang mendengar. Di bawah langit malam, di atas jembatan kayu, cukup menariknya kita yang membahas hal-hal sekitar dengan mengalir. Mungkin banyak pertanyaan saat itu: kenapa air sungai besar itu beriak di tengah arus, menghitung jumlah bintang, mencari awan, menerka maksud rombongan pengendara motor itu yang bermain...