A
“Mau sama anak saya, emang kamu punya apa?” Tanya calon ibu mertua dengan alisnya yang ditekuk, bibir merentang, menguji-sinis, meremehkan-culas. “Saya punya milku, Bu.” Selepas mendengar jawaban itu, ekspresinya seketika berubah, lalu memicingkan mata, melipat kedua tangannya tinggi-tinggi. “Rasa apa?” “Original, Bu.” Jawab lelaki itu dengan sumringah. “Halah, kok original! Kamu mau membuat kehidupan anak saya hambar, tidak ada rasa?! Hah?!!” Ekspresinya seketika kembali berubah, lebih culas dan antagonis, intonasi mengintimidasi. (Mungkin beliau member kubu Milku cokelat atau stroberi, atau juga varian baru, merie biskuit). “Bukan seperti itu, Bu. Saya menawarkan kemunian. Hidup yang murni. Organik. Untuk banyak kemungkinan opsi rasa lain yang justru akan lebih klop jika orientasi dasarnya adalah plain. Kembali lagi, semua tergantung perspektif, Bu. Tergantung mindset.” Calon ibu mertua terdiam. Tukik alisnya melemah, bibirnya menyusut, tangannya terurai, intonasinya ...