Postingan

‎Di Hari Dinosaurus ini kita belajar, bahwa: ‎ ‎“Sebuah kesalahan yang dipercaya banyak orang akan dianggap sebagai kebenaran.” ‎ ‎Itu kenapa, jangan sekali-kali menormalisasikan sebuah kesalahan, entah karena bodoh (ikut-ikutan) atau bercandaan, bisa berdampak pada tumpulnya kepekaan terhadap nilai-nilai rasional, emosional, dan sosial. Tak lagi menjadi manusiawi yang bijak dan berdaya. ‎ ‎Yang bodoh semakin terlena dengan kebodohannya. ‎ ‎Berani saja tidak cukup untuk melawan pemerintah yang dzolim. ‎ ‎Hal lain, di Hari Dinosaurus ini kita belajar, bahwa: ‎ ‎“Sedikit lebih beda itu lebih baik, daripada sedikit lebih baik.” ‎ ‎Tidak sedikit, persaingan inovasi baik dari manusia yang berpikir, selalu dimenangkan oleh inovasi baik yang beda: unik, bukan aneh. Hal itu tentu secara tidak langsung memperkokoh dan memperkukuh identitas dan kekhasan. ‎ ‎Berbeda berarti harus siap sepi, dan sepi berarti harus siap capek. ‎

Abadiat

Sepertinya saya setuju: 3 hal yang tidak boleh dipatahkan dari laki-laki: 1.       Harga dirinya. 2.       Hobinya. 3.       Sifat kekanak-kanakannya.

Abdiah

Sekali lagi, aku nggak pernah mengajak dan mengajarimu untuk melawan orang tua. Tapi sebuah hubungan yang tanpa berjuang, tanpa kompromi, tanpa saling percaya dan mendukung, itu bukan hubungan, Kekasih; itu kekerdilan.

Abadi

Dari kerja keras usaha mengejar sampai ke Semarang untuk pertemuan pertama saya dengan Pasar Literasi, kali ini malah menyapa Kediri. Bertempat di Kediri Mall, saya tidak bisa berleluasa waktu karena durasi maksimal hanya sampai tanggal 9 mei. Hal menyebalkan yang menghambat saya untuk menyapa kembali dengan Pasar Literasi adalah soal ketahanan manejemen yang harus tetap balance dari turbulensi akhir bulan. Dan hal itu beru terwujud di awal bulan. Sebenarnya niat awalnya ya mencari buku, belanja buku bulanan. Itu kenapa juga Gramedia tetp masuk list wajib dalam kesempatan ini. Tapi karena ada momen Pasar Literasi ini, saya menyapanya lebih dulu. Dengan Rendy, menaiki maxim, sampailah kami. Masuk. Berputar-putar. Eskalator satu ke eskalator lainnya. Bertanya satpam. Sampai. Kami menyelam, mengarungi buku demi buku yang penuh damba. Buset!   Sedari sedikit berpindah-pindah, Rendy menumpuk 4 buku di tangannya, sedari hal yang awalnya ia bilang ”lihat nanti ajal...

Abad

Hai. Ini hari pertamaku membuat klub buku. Ya, bukan hanya aku sih. Ada 3 teman, adik kelas, dan partner kerja tim yang luar biasa di Divisi Literasi. Ada Abha, Rendy, dan Rahmat. Meski baru kemarin rasanya ide-ide hebat itu tercetus, mulai dari mading, buku ajar, menejemen pustaka, dan salah satunya ya lapak pustaka. Secara garis besar, project itu bernamakan lapak pustaka. Tapi bisa juga disebut sebagai komunitas bacaan, klub buku, atau diskusi literasi yang sudah banyak dikobarkan. Ide yang kami teguhkan beberapa malam lalu di sebuah café yang menjanjikan wifi dan semeja billiard gratis itu, larut malam tak hanya menciptakan ngantuk. Tapi gagasan besar dan hebat yang justru dikandung dan lahir. Sebuah cita-cita yang hanya saya peluk sendiri di kepala saya, dan kini terwujud bersama mereka. Saya tidak mau pusing perihal konsep-konsep hebat dalam project lapak pustaka ini. Sedari hal yang hanya bertujuan menciptakan ruang baca dengan buku-buku yang boleh dipinjam dan dibaca, d...

Aba-Aba

 Aku suka membersamai hujan Di setiap rintik dan gemercik Banyak kamunya

Aba

Jika aku bisa berkenalan dengan waktu, menjalin hubungan, dan kami menjadi sepasang kekasih: aku ingin dihadiahi sekuntum takdir di hari lahirku, hari di mana cengeng dan do'a berciuman dalam suci; bahwa, jika aku terlahir laki-laki, aku ingin gagah dan berwibawa sebagai Chairil Anwar. Jika sekalipun luar biasanya aku terlahir perempuan, aku ingin tegap dan jelita sebagai Kartini-bukan seorang lelaki yang kerap dihakimi dengan tuduh keperempuanan dari sebaris nama Aqna Mumtaz Ilmi Ahbati yang penuh cinta itu. ‎ ‎Biarlah dunia ini gelap tanpa terang, biarlah seisi manusia menganggapku binatang jalang, aku hanya ingin menjadi sebaris puisi berani; yang sederhana, tulus, dan memeluk. ‎ ‎Chairil, Kartini, tetaplah hidup di hati kami.