Payahh

Sebenarnya tulisan ini masih ada sangkut pautnya dengan tulisan di postingan sebelumnya. Jika sudi dan berkenan, kalian bisa membacanya terlebih dahulu; agar tulisan ini tidak timbul kesalahpahaman dan kesan pembelaan.

‎‎Bisa dipastikan, tidak ada dari kita yang ingin payah dalam hidup.

Dari hidup yang tidak membiarkan kita untuk menyerah, memaksa berjuang sampai lelah, jika pada akhirnya kenyataan mengharuskan kita untuk lerah: kita kalah, kita payah.

‎‎Semua sebab-akibat, dari indikasi hingga implikasi, tentu banyak hal yang mempengaruhi hasil. Terkhusus jika membandingi soal cinta, jelas sudah saya mengaku payah.

‎‎Dengan latar belakang yang seperti itu, maka timbul pertanyaan dari rumusan masalah yang harus dijawab.

Setidaknya sederhana:

“Apakah orang payah boleh jatuh cinta?” dan “Bagaimana cara jatuh cinta dengan payah?”

Adalah do’a.

Ya, dengan do’a.

Kurang payah apa dari orang yang jatuh cinta dan hanya bisa melampiaskannya lewat do’a?

Maaf jika terkesan jijik dan sok suci, tapi inilah jalannya.

“Jika kamu mencintai seseorang sebelum menikah, tidaklah ada yang halal untuknya kecuali dengan do’a. Cinta itu adalah do’a. Maka do’akanlah orang yang kamu cintai.”

-Habib Zainal Abidin Al-Kaff

‎‎“Aku mencintaimu. Itu sebabnya aku takkan pernah selesai mendo’akan keselamatanmu.”

-Sapardi  Djoko Damono

‎‎“Aku memilih mencintaimu dalam diam, karena dalam diam tidak akan ada penolakan.”

-Jalaluddin Rumi

‎‎Tapi lain hal, dari sekian obsesi akan kerennya percintaan makhluk bumi, satu hal yang membuat iri, -bestari sekaligus lestari: apakah kalian pernah lihat bagaimana pegiat seni menyentuh cinta?

‎‎Saya selalu iri kepada mereka yang mengangkat kuas dalam seni lukis, merajut melodi dalam seni musik, juga memutar lensa dalam seni fotografi; mereka yang menyikapi cinta dengan begitu manis dan magis.

Itu kenapa saya menulis.

Tidak seperti do’a, menulis bukan hanya soal jatuh cinta dengan cara yang paling sunyi. Lebih dari itu, menulis adalah bentuk jatuh cinta yang memahami; yang paling menghargai: mengeja pelan, menyusunnya perlahan.

Bagaimana rasanya jatuh cinta yang tak lekang oleh waktu? Bukan hanya tentang cinta yang jatuh dan mati dalam hati, tapi juga cinta yang bangun dan hidup dalam karya.

Selayaknya para pegiat seni yang lain, menulis adalah bekerja untuk keabadian.

Dan tentu saya mengupayakan keabadian itu, untuk cinta ini.

Selain itu, saya rasa, menulis tidak menghalangi saya untuk tetap jatuh cinta pada diri sendiri: sama sekali; hebat sekali; benar-benar manis dan magis.

Hingga, satu hal yang saya pahami, bahwa pada akhirnya jatuh cinta hanya tentang mengikhlaskan dan memantaskan.

Hal apa lagi untuk orang payah selain mengikhlaskan?

Lalu do’a dan menulis sebagai langkah kecil untuk memantaskan.

Hai, kamu.

Aku sudah sedari lama berdo’a.

Aku sudah mulai menulis; apa kamu mau membacanya?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aneh

Baik

Dosa