Teman
Sejujurnya, saya tidak suka membaca.
Sama saja
seperti apa yang kalian anggap, bahwa membaca adalah kegiatan aneh yang
mengundang mumet dan jlimet. Pusing. Membosankan. Buang-buang waktu.
Aneh bisa
saya bilang, terlihat dari orang yang terpaku-terduduk-tertunduk terdiam
berjam-jam seperti patung dari kegiatan yang disebut membaca itu. Tidak
ada bentuk kinestetik-produktifitasnya sama sekali. Mana unsur sosialnya? Kok
ada orang yang rela buang-buang waktu untuk memandangi lembaran kertas penuh
huruf jika pada akhirnya hanya menguap ngantuk yang tak berkesudahan?!
Aneh!
Begitulah kira-kira isi pikiran anak kelas 2 SD, di 14
tahun yang lalu, yang segera sadar dari keterbodohan itu setelahnya; tidak
lagi, tidak akan.
Sebenarnya tidak ada alasan yang pasti dari ketersadaran
tersebut. Setidaknya bagi saya: buku itu ganteng!
Entah dengan padanan kata apa, ganteng atau malah
cantik; bagi saya, buku selalu punya pesonanya tersendiri!
Apapun, siapapun, yang bersama buku akan terasa cakep dan
memikat. Lelaki akan terasa lebih rupawan. Perempuan akan terasa sangat
menawan. Selain
bercermin, bersama buku adalah potret lain dari momen kepercayaan diri saya.
“Membaca
Adalah bernafas, menulis Adalah berbicara.”
-Pramoedya
Ananta Toer.
Membaca
adalah bernafas.
Sebagai
orang cengeng yang mudah lelah akan energi sosial dan menghindari segala hiruk
pikuk kebisingan, membaca mampu menjadi penawar akan sesak-sesak yang mengekang
nafas hidup kita.
Menulis
adalah berbicara.
Berbicara
itu tidak mudah.
Berbicara
itu harus selaras dengan siapa yang mendengar. Bagi seorang cengeng, persoalan
berkisar mampu dan mau.
Dengan itu
jelas sudah, buku adalah teman dan membaca merupakan bentuk obrolan yang paling
menyenangkan dengan seorang ‘teman’.
“Membaca adalah
percakapan diam-diam dengan orang-orang sepanjang masa.”
-Rene Descartes
Terakhir,
buku itu, membaca itu tenang; senang, aman, nyaman.
Tidak ada
yang men-judge capek kita, lemah, jatuh, overthinking, cengeng kita. Menemani,
turut mendengar, menasehati dengan paling lembut; seolah paling mengerti kita,
lebih dari siapapun—bahkan diri kita sendiri.
“Buku-buku
adalah jendela yang tidak pernah terkunci, selalu terbuka bagi siapa saja yang
ingin melarikan diri sebentar dari dunia.”
-Haruki
Murakami.
Melarikan diri bukan berarti kalah; kita hanya lelah.
Hingga, titik tertinggi dari berteman dengan buku dan
berbincang dalam membaca, adalah membenamkan diri dalam hening malam untuk
lembar-lembar yang terbuka, mengeja kata-kata dengan terbata, berbantal buku
atau memeluk; hingga lelap, hingga senyap.
Aku, kamu, kita; tak apa cengeng!
Selamat
membaca!
Komentar
Posting Komentar