Boikot

Tulisan ini terlahir dari kesedihan atas banyak hal, atas segala ramai-ramai dan berita yang tidak mengenakkan.

Tentang siapa yang benar, siapa yang salah. Siapa yang baik, siapa yang jahat: untuk semua tuduh-tuduh yang menyebalkan.

Tapi bagaimanapun, kita tetap harus bersikap. Mau tak mau, kita harus berkenal realita, untuk bertindak dan berpihak, untuk berpendapat dan tepat.

Terlebih, ini tentang arti diri.

Semua hal tentang santri, kiai, dan pesantren, kini menjadi pembahasan yang kian hari kian pelik dan mencekik; merupakan salah satu topik dari sekian banyaknya masalah di negara ini yang bisa dan perlu dibahas, meski belum tentu becus dan tuntas.

Terkhusus santri yang seakan menjadi serpih bara, kiai dan pesantren dianggap sebagai kobar apinya atas tuduhan dan narasi-narasi kebencian yang beredar saat ini.

“Kiai feodal!”

“Pesantren perbudakan!”

Jahat sekali ucapan itu.

Sudah banyak sekali counter narasi yang disampaikan oleh para civitas pesantren atas segala hal yang dituduhkan dan perlu ditanggapi. Mulai  dari kalangan santri, alumni, jurnalis pesantren, hingga para masyayikh sekalipun. Entah melalui pendekatan teologis-spiritualis hingga akademis-rasionalis, semua mengemukakan pendapatnya dalam bidang dan linier kapasitasnya masing-masing; jenius dan keren-keren sekali!

Saya menaruh hormat pada beliau-beliau, pikiran dan tulisannya.

Untuk itu, setidaknya, saya sampaikan suara kecil ini atas 2 poin yang dipetik dengan terlampau besar. Dengan penuh rendah hati dan sadar diri, tulisan ini tidak bermaksud ilmiah dengan konteks dalil-dalil dan referensi. Hal itu sudah banyak disampaikan oleh para panutan dan saya rasa itu cukup.

Juga saya mohonkan izin atas tulisan ini yang berkelakar di rumah —media sosial— kalian, wahai netizen yang budiman!

Pertama, perihal roan.

Jangan terlalu lebay perihal kegiatan roan atau gotong royong ini. Bagi santri, pesantren itu rumah. Dan roan adalah bentuk kepedulian santri akan rumahnya. Apa yang salah dari orang yang bahu membahu untuk kebaikan rumahnya sendiri? Ini perbudakan? Come on, bro!

Lagipula dalam konsepnya, untuk jaminan atas bangunan yang dibangun dalam roan, santri hanya terhitung turut andil dalam tenaga yang membantu arsitek-kontraktor sebagai otak perancang dan pelaksananya.

Seperti kerja bakti warga pada desanya, atau KKN mahasiswa pada lingkungannya, roan tak lebih juga soal pengabdian; bentuk rasa terima kasih dan kepedulian. Tentu banyak hal baik yang bisa diambil darinya.

Kedua, perihal sowan.

Jika pesantren adalah rumah, kiai adalah sang pemilik rumah. Terlebih pemilik rumah itu adalah orang tua kita sendiri. Selain ayah-ibu sebagai orang tua kandung yang melahirkan raga, dan mertua sebagai orang tua yang menikahkan; guru termasuk orang tua yang vital, orang tua yang melahirkan jiwa dengan mendidik. Dan yang namanya orang tua tentu wajib dihormati. Dimuliakan.

Jadi nggak usah baper dalam menanggapi bersalaman, menunduk, membungkuk, berjongkok, bersimpuh. Itu hanya tentang cara dari penghormatan sebagai esensinya. Apa setiap orang harus sama dan boleh men-judge atas perbedaan? Soal cara dan pengungkapan, itu terserah saja! Itu keberagaman. Itu budaya.

Sependek pengalaman saya yang pernah mondok di Jawa Barat dan Jawa Timur, budaya itu cukup jelas terlihat. Apalagi suku Sunda dan Jawa sebagai latarbelakang sosio-budayanya. Seperti semat “Ama” dan “Akang” untuk figur kiai, lengkap dengan mendekat bersalaman sebagai bentuk penghormatan. Lain Jawa Barat, Jawa Timur lebih akrab dengan “Mbah Yai” “Gus” “Cak” serta menunduk membungkuk sebagai bentuk penghormatannya.

Meski tanpa menafikan, santri Jawa Barat yang menunduk membungkuk, dan santri Jawa Timur yang bersalaman.

Atau menyoal memberi, apa yang salah dari memberi pada orang tua, orang yang telah memberi tempat tinggal dan mendidik? Ini juga bentuk terima kasih dan penghormatan.

Toh yang namanya kiai adalah guru, dan guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa, selamanya jasa tak akan pernah bisa dibayar dengan hal matrealis. Atau juga guru adalah orang tua, dan orang tua selalu kita harapkan ridhonya atas ridho Allah.

Tapi satu hal yang bisa ditarik benang merahnya adalah, bahwa ini hanya soal cinta. Pembahasan carut-marut ini hanya sesederhana urusan cinta. Emang apa yang bisa diharap dari orang yang jatuh cinta? Roan adalah bentuk cintanya santri pada pesantrennya. Sowan adalah bentuk cintanya santri pada kiainya. Terlebih ini jatuh cinta yang didasari akan kepedulian dan penghormatan.

“Taukah kau  pekerjaan paling sia-sia  di muka bumi? Yaitu, memberi nasihat kapada orang yang jatuh cinta.” -Sujiwo Tejo

Tidak ada rules dalam cinta. Tidak ada yang bisa dan perlu diatur. Itu kenapa, orang yang jatuh cinta tidak bisa dihakimi. Tanpa mengesampingkan otak dan pikiran, cinta memang soal hati dan pikiran. Tidak perlu dipikir mumet-mumet, ribet-ribet: rasakan saja!

“Jangan belajar cinta dengan nukilan buku logika. Makin banyak kita berpikir, makin banyak kemungkinan kita membantah. Rasakan saja.” (Dr. Fahruddin Faiz, Jatuh Cinta Kepada-Nya)

Bagi siapapun yang jatuh cinta, ia akan memberikan apapun untuk yang dicintainya. Memuja, memuji, melakukan berbagai macam effort, yang sebenarnya tanpa pernah disuruh atau dipinta; itu insting alamiah jatuh cinta.

Pada kekasih di status pacaran —yang entah apa pentingnya dan andilnya— memberi dan mengungkapkan rasa cinta disebut romantis; kenapa santri pada pesantren dan kiainya —untuk tempat bernaung dan ilmu pengetahuan— disebut feodalis?

Meskipun begitu, tanpa ada maksud anti-kritik, saya tidak membenarkan dan mengecam dengan lantang atas beberapa kejadian pelecehan seksual, kekerasan, dan perendahan tanpa adab dan ilmu, yang sayangnya harus terjadi di lingkungan pesantren. Segelintir kasus yang dapat mengotori citra 4 juta santri dan 42.000 pondok pesantren yang tersebar di Indonesia.  

Mari #jagapesantren #jagakeberagaman #jagakemanusiaan #jagakeilmuan

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aneh

Baik

Dosa