Laki
Menjadi laki-laki adalah takdir yang paling berani. Dengan segala hal yang harus disyukuri, menjadi laki-laki memang hanya tentang berani: tak ubahnya seekor singa yang gagah dengan gelar ‘raja rimba’, gelar yang belum tentu ia ingin.
Ia mengaum di luasnya padang sabana, untuk
dipaksa bertarung, untuk terus hidup.
Sedari dini dan sadar, laki-laki sudah
dipaksa bertarung dengan stigma, stereotip, dan ekspetasi gender, bahwa “Jadi
laki-laki jangan cengeng!”
laki-laki harus begini – laki-laki nggak boleh begitu, seakan ia
makhluk kasar yang tidak memilki perasaan: yang tidak butuh atau bahkan tidak
boleh.
Lalu kian besar, dengan kenyataan seperti
itu, laki-laki terus bertumbuh dengan berbagai macam tantangan dan rintangan
yang seolah sah-sah saja dilimpahkan seenak jidat: memang sepantasnya, memang
seharusnya.
“Toh emang laki-laki kan kuat dan pemberani!”
Hingga, yang dimaksud dari ‘hidup adalah
perlombaan’ itu benar-benar dimulai:
Dari pendidikan dan karir yang dikejar; dari
usia diri dan orang tua yang mengejar. Lalu percintaan, rasanya turut dikejar
dan mengejar. Kita seolah tidak diberi nafas untuk segera menang atau kalah.
Membuat semuanya terasa padu dalam simfoni
pertarungan pikiran, perasaan, dan badan yang tak beraturan; berbenturan.
Harus saya terima dan sampaikan: memang
seperti itu kenyataannya.
Selain tidak hanya sekedar menjadi laki-laki,
apa pendapatmu untuk laki-laki yang merantau?
‘Perlombaan’ itu semakin ramai dan
menjadi-jadi.
Menunggu
pengumuman hasilnya menjadi momen yang paling ditunggu dan seru.
Tanpa
ada sekalipun ruang untuk bermaksud mengeluh dan lari dari kenyataan, saya akui
bahwa hidup memang punya tanggung jawabnya masing-masing. Itu merupakan tugas dan sarana untuk berkembang. Tidak ada masalah sama
sekali.
Tapi satu hal yang harus dipahami, bahwa hidup
ini masuk akal dengan sebab-akibat yang kompleks. Maka penalaran deduktifnya,
adalah tidak akan disebut keberanian jika tanpa adanya ketakutan. Untuk
mendapatkan kesimpulan, bukankah kita memang butuh pengenalan perbandingan
peran antar subjek-objek yang saling terkait?
Meski Soe Hok Gie mengatakan, bahwa “Hidup
adalah keberanian menghadapi tanda tanya!” tapi apakah laki-laki sepenuhnya
berani; tanpa ada ketakutan; sedikitpun?
Bukan berarti berani tanpa takut.
Bukan
berarti takut, nggak boleh berani.
Awas
logical fallacy, awas false dilemma: tolong dipahami!
Lantas, apa?
Kesepian, adalah arti dari ketakutan itu
sendiri.
Sepi adalah alienasi dari hal yang sulit
terpahami dari diri; bukan sesederhana hal yang dibutuhkan pikiran, perasaan,
atau badan.
Sepi
itu soal jiwa.
Sepi
belum tentu butuh orang lain dan keramaian.
“Kesepian
tidak datang karena tidak adanya orang di sekelilingmu, namun karena engkau
tidak mampu mengungkapkan segala yang menurutmu penting.” (Carl Jung)
“Kita lahir dan akan mati sendiri. Di antara dua
kenyataan tersebut, kita menciptakan seribu satu ilusi tentang kebersamaan,
yakni semua jenis hubungan, pertemanan, permusuhan, cinta dan kebencian. Kita menciptakan aneka halusinasi hanya untuk menghindari fakta bahwa: kita
adalah sendirian. Namun apapun yang kita lakukan, kebenaran tidak dapat
berubah. Seperti itulah adanya, dan dari pada berusaha untuk melarikan diri
darinya, jalan terbaik adalah bergembira di dalamnya.” (Osho, The
Sound of One Hand Clapping)
“Seseorang bisa menjadi dirinya sendiri selama
dia sendirian. Dan jika dia tidak menyukai kesendirian, dia tidak akan menyukai
kebebasan; karena hanya ketika dia sendirian dia benar-benar bebas.” (Arthur
Schopenhauer)
“Soalnya kan perilaku kita tidak bisa ditunjuk
secara pinpoint atau dengan eksak seperti itu. orang menjalin hubungan dengan
orang lain, terutama dalam kasus laki-laki menjalin hubungan dengan perempuan
—bagaimana sebaiknya kusebut— biasanya didasarkan atas hal ihwal yang lebih
menyeluruh. Lebih ambigu, lebih egois, dan lebih memedihkan.” (Haruki Murakami,
Lelaki-Lelaki Tanpa Perempuan)
Hei, memang berapakah harga untuk sepotong
peluk?
Aku mencarinya dalam buku; dengan menulis,
dengan membaca.
Sudahkah kamu mendapat pelukmu?
Komentar
Posting Komentar