Pusat

Saya cukup terkejut —dan tentu tersinggung— untuk seseorang, akan aktivitas yang saya geluti di forum kelas kepenulisan.

Ia berseoroh:

“Ikut kelas begitu tuh untuk apa sih? Apa yang harus dipelajari? Kalau buat nulis, kan dari TK juga sudah diajari. Nulis kan gitu-gitu doang?!”

Wowww!

Amazing!

Murni orang itu bertanya atau ada maksud lain, bodoh atau cerdasnya, opini itu benar-benar liar dan menyebalkan: kok bisa seperti itu jalan pikirnya?

Mari sedikit kita bahas dengan hati yang lapang!

Guru saya pernah bilang, “Kalau sekedar hidup, monyet juga hidup. Kalua sekedar kerja, kerbau juga kerja.”

Lalu, untuk sekedar menulis, benar, anak TK pun bisa. Nggak perlu belajar jauh dan ikut kelas kepenulisan.

Tapi maaf, ini bukan hanya ‘sekedar’.

Menulis itu seni.

Seni itu menghasilkan karya.

Karya itu bukan usaha main-main tanpa jalan pikiran, perasaan, dan keterampilan.

Mungkin saja untuk sekedar bisa menulis. Bisa saja kita mengupayakan untuk menulis yang rapih dan bagus. Tapi untuk menulis yang baik, yang benar?

George Orwell bilang, “Jika kita tak bisa menulis dengan baik, berarti kita tak bisa berpikir dengan baik. Jika kita tak bisa berpikir dengan baik, akan ada orang lain yang mengambil alih pikiran kita untuk kepentingan mereka.”

Jadi jelas sudah, kenapa orang itu beropini liar dan menyebalkan: kenapa ia tak bisa berpikir dengan baik?

Menulis tak lebih tentang makna belajar; berpikir.

Atau begini saja: silahkan tutup matamu, atur nafas, dan bayangkan, “Bagaimana jika kita tidak menulis?”

Pertama, hal paling fundamen dan asasi: kehidupan dan peradaban.

Tidak dapat dipungkiri, bahwa peradaban bertonggak pada tulisan. Dari periode sejarah yang tertaut pada masa pra aksara dan aksara: Heroglifia di Mesir, Hanzi di Cina, Cuneus Forma di Mesopotamia, Maya Glyphs di Mesoamerika.

Lantas selain roda dan api, tulisan merupakan salah satu dari tiga penemuan manusia yang terbesar.

Tau akan itu?

Kedua, tentu adalah pengetahuan.

Peradaban lestari selaras dengan pengetahuan yang terbentuk dari individu masyarakatnya, lengkap dengan sosio-budayanya. Tapi di luar konsep taksonomi bloom, pengetahuan tidak akan tercapai dengan tanpa belajar, dan belajar tidak akan cukup dengan hanya membaca, mendengar, dan berbicara; tanpa menulis.

Tanpa menulis, pemikiran-pemikiran, ide, konsep, rumus, teori, metode, dan khazanah keilmuan tidak akan tersampaikan. Buku-buku barat hingga timur, dari Leo Tolstoy hingga Al-Ghazali. Bahkan sekalipun mushaf Al-Qur’an itu sendiri.

Sebagai makhluk yang tidak terlepas salah dan lupa, itu kenapa kita dianjurkan untuk mengikat ilmu dengan tulisan. Karena memang, bukankah segala hal yang tercipta dari lisan akan hilang?

Belajarlah!

Ikatlah!

Menulislah!

“Orang boleh pandai setinggi langit. Tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.”

-Parmoedya Ananta Toer.

Ketiga, puisi.

Untuk ini, bayang terdalam saya bersuara: akan seberapa suram di sana?

Apa jadinya jika puisi tak lagi menjadi bagian dari parade kata? Apa jadinya, jika Chairil Anwar, Sapardi Djoko Damono, WS. Rendra, Sutardji Calzoum Bahri, Joko Pinurbo, Taufik Ismail, Subagio Sastrowardoyo, Sitor Situmorang, Putu Wijaya, Emha Ainun Najib, Amir Hamzah, Wiji Thukul, Remy Sylado, Aan Mansur, D. Zawawi Imron bersyair dengan suara terbata?

Bagaimana cara menyemai rindu dari gersang hati akan rintik hujan air mata; bagaimana kita akan meneguk cinta?

Kesimpulannya, apa; dari “Bayangkan jika kita tidak menulis”?

Setidaknya satu hal: tanpa menulis, kita tidak benar baik-baik saja.

Tidak akan.

Percayalah!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aneh

Baik

Dosa