Payah

Dari segala hiruk pikuk percintaan makhluk bumi yang keren-keren, izinkan tulisan ini berceloteh sekelumit menyoal cinta dari perspektif mahasiswa semester7 yang, ya, biasa-biasa aja.

Alih-alih membangun istana megah dan mewah, bagi saya, jatuh cinta tak ubahnya seperti membuka suatu ruang kecil nan sederhana; di sudut hati.

Sebuah ruang yang bisa senantiasa kita datangi, untuk menyimpan segala hal tentang orang yang kita cintai: sekelumit kesibukan yang ia geluti, makanan apa yang ia sukai, tempat mana yang ia datangi, buku apa yang sedang ia baca, project kecil apa yang sedang ia bangun, juga cara ia berbicara dan menyapa, atau malah senyum manisnya yang dengan sengaja kita curi secara diam-diam.

Semua bayang-bayangnya, juga harapan-harapan kita, terpatri dalam warna-warni interior, menjadi lukisan atau tulisan dinding hiasan, juga mekar bunga dan vasnya yang mengharum; membuat ruang itu semakin nyaman untuk disinggahi, untuk mencicip syahdu dari cinta yang paling sunyi.

Dalam perjalanan membangun ruang itu dengan debar-debar keterpecundangan, siapapun yang jatuh cinta seorang diri, dari perasaan yang seolah tanpa tepi; bersiaplah juga untuk sepi.

Alangkah baik, jika saja kita tidak sendiri dalam membangun dan mengisi ruang itu, kita tidak sendiri dalam jatuh cinta; tidak hanya mencintai, tapi juga turut dicintai; dari cinta yang terbalas, bersemi.

Tentu pasti ada yang berbeda. Jika sebelumnya ruang itu hanya diisi oleh bayang-bayang untuk membangun, kini bayang-bayang itu menjadi nyata untuk benar-benar membuat ruang itu hidup. Mengajaknya, malu-malu memperkenalkan ruang itu, mempersilahkan untuk singgah dan berbagi. Dari semua hal ketersendirian, lalu keterbersamaan.

Tapi jika sebelumnya tugas kita hanya membangun dan menikmati ruang itu seorang diri, hingga nyatanya, menghidupi tidak sesederhana membangun; meski bersama.

Dalam sebuah ruang bersama, menghidupi membutuhkan komunikasi. Dan komunikasi bukan hanya soal berbicara dan mendengar. Lebih dari itu, keterbukaan, penerimaan, perhatiaan, saling percaya dan menjaga. Dan hal yang tak kalah penting, bagaimana ruang itu tetap bisa menjadi sarana bertumbuh; meski bersama.

Tapi sebagaimana ‘semakin tinggi pohon semakin angin menerpa’, cinta seakan seperti dualisme, yang musuh terbesarnya adalah waktu.

Tidak menjadi masalah yang berarti saat kita singgah di ruang itu kala sendiri, dari dan untuk diri kita sendiri. Kita bisa mengekspresikan ruang itu dengan segala senang dan keinginan kita, untuk tetap nyaman mencintai setiap sudut bayang-bayang di dalamnya.

Tapi saat ruang itu sudah menjadi milik bersama, saat keinginan bukan hanya tentang pribadi, untuk harapan dan tujuan, idealisme pun belum tentu terpahami baik dalam konsep kebersamaan. Antara memberi dan menerima. Antara salah dan kalah.

Ruang bersama itu mulai dimaknai dengan kemasing-masingan; hingga keasingan.

Tentang siapa yang benar, siapa yang salah. Siapa yang menyakiti, siapa yang tersakiti. Siapa yang paling berjasa, siapa yang paling tidak melakukan apa-apa. Ruang yang pada awalnya berhias indah kehangatan, kini malah dipenuhi pertanyaan-pertanyaan suram yang mencekik.

Jalaluddin Rumi dalam Fihi Ma Fihi, mengatakan:

“Kamu memiliki kebiasaan untuk mengubah akhlak lawan jenismu, pasanganmu, untuk membersihkan ketidaksucian dan memperbaiki kesalahan-kesalahan mereka. Menyucikan dirimu sendiri melalui mereka itu lebih baik daripada mencoba menyucikan mereka melalui dirimu. Ubahlah dirimu sendiri melalui mereka. Temui mereka dan terimalah apa saja yang mereka katakan, walaupun dari sudut pandangmu itu terdengar aneh dan tidak adil.”

Pemaksaan kehendak, mulai mengencingi prinsip ‘menghidupi ruang’ di awal.

Lantas, bagaimana dengan ruangmu, sudahkah meraung?!

Sepertinya kita memang payah dalam urusan cinta; ah sudahlah!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aneh

Baik

Dosa