Hayat

Hal apa yang lebih menyebalkan dari hidup yang luar biasa ini, selain kenyataan bahwa waktu punya masa tenggang? Bahwa kita ada batas takdir usia; kita akan dipeluk oleh kematian.

Semenggelegar apa ngorok pulasmu, semendentum apa sendawa kenyangmu; kasur empukmu, makanan lezatmu, jika dinikmati sambil memikirkan:

“Dalam keadaan seperti apa kita akan meninggal?”

Pasti akan terasa kurang nikmat.

Bahkan, semanis-manisnya es teh manis —yang meskipun tetap kalah manis kalau dibanding senyumannya— jika diminum sambil membayangkan day 1 jadi pocong in the kubur, pasti jadinya ‘es teh menolak manis’.

Mau seberapa pede Xi Jinping dan Putin bahas transplantasi organ yang, katanya, mampu memperpanjang hidup sampai 150 tahun, saat waktunya is dead, ya tetap is dead. Karena yang namanya kematian itu keniscayaan. Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan kematian.

Dinotice kayak gini, apa yang harus dilakukan?

Selain do’a siang-malam, panjang umur juga perlu diusahakan dengan dijalani, dinikmati, disyukuri. Atau setidaknya, kita perlu hidup dengan melakukan hal-hal yang membuat kita merasa panjang umur; butuh teman yang membuat kita merasa panjang umur.

Saya kira, buku adalah hal, teman yang dimaksud.

Itu kenapa, Charles W. Eliot mengatakan: “Buku Adalah teman yang paling tenang dan paling setia sepanjang waktu.”

Tenang berarti merasa nyaman.

Setia berarti tidak membiarkan sendirian.

Bung Hatta pun turut memproklamirkan loyalitasnya sebagai teman, “Aku rela dipenjara, asalkan bersama buku. Karena dengan buku, aku bebas.”

Buku selalu memberi kesempatan kebebasan kepada diri kita agar merasa nyaman dan tidak sendirian. Membaca untuk mendengar, menulis untuk didengar.

Bahkan sekalipun kesempatan untuk orang lain: “Membacalah agar mendengar dunia, menulislah agar dikenal dunia!”

Dengan begitu, dengan makna kita adalah citra dari dengan siapa kita berteman; jelas sudah, kita adalah arti dari buku itu sendiri.

Emile Zola melengkapi, “Kita seperti buku. Banyak yang menilai dari sampul, sedikit yang membaca, dan hanya segelintir yang dapat memahami.”

Sudah berapa kali kita dinilai?

Sudah berapa sering kita dibaca?

Seberapa yakin kita berhasil dipahami?

Tapi, terakhir, apa yang diharap dari menerka panjang umur dengan ‘bersama’ atau ‘menjadi’ buku di negara ini? Apakah kita bisa benar-benar panjang umur?

Najwa Shihab menjawab, “Kalau ingin melihat masa depan suatu bangsa, lihatlah bagaimana mereka memperlakukan buku-buku!”

Pertanyaannya, bagaimana buku-buku diperlakukan di sini?

Sudah berapa berhasil mereka meningkatkan minat baca? Sudah berapa merata akses perpustakaan dan taman baca? Sudah berapa efisien untuk harga buku yang terus melonjak? Sudah berapa tegas dan serius dalam penanganan buku bajakan? Dan apa sikap yang sudah diberikan akan apresiasi terhadap para penulis?

Man, cut that stupid shit!

Teruslah hidup!

Teruslah panjang umur!

Semoga panjang umur.

Mari; bersama buku.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aneh

Baik

Dosa