Postingan

Menampilkan postingan dari November, 2024

Dimensi

Nyatanya penyakit writer’s block ini belum kunjung reda, sembuh. Berbagai macam terapi gua coba sekenanya, perlahan. Selain itu, bagi gua, menyaksikan bagaimana hidup menceritakan dirinya melalui orang-orang di dalamnya, dirasa memberi kesannya tersendiri. Memperhatikan orang-orang dengan gerak-geriknya, meskipun nggak semua hal itu penting diperhatikan: gua nggak begitu peduli soal orang. Tentu kita nggak begitu bodoh untuk mana yang penting dan mana yang nggak penting. Oleh karena itu, setiap hal yang alami itu menenangkan. Mengesampingkan ruang untuk cupang, es krim, dan hujan, waktu tetap gua isi dengan hal semestinta: sewajarnya. Kali ini gua nggak sependapat dengan Bernadya untuk ‘Sialnya, Hidup Harus Tetap Berjalan’. Nyatanya, Allah tetap berbaik untuk anugerah cengar-cengir lugu ini. Setelah dipikir mendalam, mungkin ini cara Allah untuk mengembalikan selera mood menulis gua yang hilang: meski terkesan aneh atau mungkin unik. Terwakilkan untuk perawatan jiwa fi...

Tembok

Bagi gua, ada 2 hal yang menjadi modal utama bagi seorang penulis ketika menulis: ide dan mood. Ide untuk bahan bakunya. Mood untuk tenaganya. Tulisan dan menulis itu akan terganggu jika salah satu dari keduanya itu terganggu. Tapi, mau seberapa deras ide yang mengalir dan mau seberapa baik mood yang terbentuk, hal itu sama sekali nggak berkutik di hadapan writer's block . Ada yang tau writer's block? Kondisi yang membuat seseorang buntu dalam menulis ini pasti pernah, jarang, atau bahkan sering dialami oleh seorang penulis. Kita semua sepakat, bahwa ide itu mudah didapat dari membaca. Tapi pada saat writer's block , membuat pikiran benar-benar semrawut yang dibarengi dengan mood menulis yang hancur. Jangankan menulis, mood membaca aja nggak ada. Hal itulah yang berpengaruh terhadap erornya otak dalam menyusun kalimat ketika menulis. Nggak ada mood baca, nggak ada ide. Nggak ada ide, nggak ada mood nulis. Nggak ada ide ditambah nggak ada mood: tamatlah su...

Jahat

Sebelum gua jelasin inti pembahasannya, gua rupanya masih berbaik hati untuk memberi  kesempatan membaca penggalan salah satu novel hebat dari penulis hebat: Bang Tere Liye. ** "Apa yang terjadi?" Ray mencengkeram erat lengan Ilham. Yang ditanya dan dicengkeram hanya bisa menggeleng patah-patah. Anak kecil berumur dua belas tahun itu menyeka pelipisnya yang berdarah. Mukanya pucat. Kakinya gemetar menopang tubuh. Tangannya berusaha mencari pegangan di tiang-tiang halte. "Siapa yang memukulmu?" Ray mendesak. Ilham meringis. Cengkeraman Ray mulai menyakitkan, dia masih diam seribu bahasa. Bagaimana dia bisa menjelaskan? Napasnya masih tersengal tiga tarikan satu detik, keringat membanjir di sekujur tubuh. Dia baru saja lari pontang-panting menghindari kerumunan begundal tanggung yang mengganggunya. "Apa yang terjadi dengan lukisanmu?" Ray menyambar bungkusan besar terbalut kertas cokelat yang tergeletak. Bungkusan besar itu robek. Sempurna bolong dihajar ses...

Sejuk

Meskipun pondok pesantren menampung berbagai macam luas perbedaan, terkadang kita malah terhimpit sempitnya. Berkenal dengan berbagai macam orang dalam ruang lingkup yang sama, pondok pesantren selalu berbaik hati akan pemberian kesempatan menjalin hubungan satu sama lain dan erat. Kita berkenal dengan teman sebaya, kepada adik atau kakak kelas.  Tapi mulusnya jalan aspal, tetap ada kerikil yang senantiasa menanti dan mengganggu. Meski hanya sebatas kerikil, tetap ada sisi nggak nyaman yang ditimbulkan.  Bagaimana tanggapan tentang guru? Ustadz? Interaksi kita dengannya? Bukan bermaksud membangkang atau bahkan memberikan ‘racun-racun’ mematikan yang akan merubah sikap ta’zhim kita pada seorang guru. Bukan, sama sekali bukan. Tapi yang gua maksud, tentu ada batas-batas tertentu yang lebih luas dan harus kita jaga dalam menjalin hubungan dengan seorang guru, dibanding sebaya atau adik-kakak kelas.  Batas-batas yang lebih intern dan sensitif. Seperti pengalaman berharga yang...

Tebak

Kalian tau sesuatu apa yang paling menjebak dibanding kuis yang diselenggarakan madrasah diniyah di akhir semester? Dari berlembar-lembar halaman, berpuluh-puluh qauluhu, dan beratus-ratus ta’rif serta contoh, kita dipaksa harus menebak dengan benar dari 10 soal yang diajukan! Lihat saja, kitab-kitab itu menatap tajam lagi ragu: Jawahirul Maknun, Fathul Muin, Bulughul Marom, Faroidhul Bahiyah, Risalatul Muawanah, dan Sulamul Munawraq! Lihat… Lihat.... Mereka berdehem! Aku dikode! Aku diremehkan! Aku dikalahkan sebelum bertanding! Apalagi kuis pamungkas dari Imla yang tidak ada materi yang bisa dipelajari, bukan main lagi ia meng-heuh sinis! Apa yang harus diperbuat? Apa nggak patut dirayakan bagi mereka yang dapat rata-rata akhir nilai 7? Sebegitu hina dan jijiknya? Emang berapa KKM-nya?

Eroteme

Suatu hari gua pernah ditanya sebuah buku, katanya, “Seriuskah Cinta Seorang Laki-Laki?” Dengan itu, apa yang kalian harap dari pertanyaan tersebut? Semakin sering kita menarik selimut lembar buku, tidak menafikan untuk gelisah mimpi yang didapat darinya, dalam hening, senyap, lenyap kadang terasa hangat, kadang gerah. Tidak selusuh selimut murahan, “Semua lelaki buaya!” dan “Perempuan selalu benar!” Selimut-selimut ini lebih menjamin untuk nyenyak, meski tanpa kasur dan ucapan selamat tidur. Kita mulai dari Chairil Anwar!  Joko Pinurbo, dalam Berguru Kepada Puisi, mengenang dengan tulus, “Chairil Anwar adalah penyair yang namanya paling dikenal, kisah hidupnya paling menarik perhatian, buku puisinya paling sering dicetak ulang, dan hari kematiannya dimuliakan.”  Bahkan, sebagaimana yang dituliskan dalam Seri Buku Tempo, Chairil Anwar Bagimu Negeri Menyediakan Api, Penyair Ahasveros-Klandestin ini mempunyai selarik puisi aforismanya yang terkenal “Cinta adalah bahaya yang leka...

Pakar

“Kenapa harus kuliah?” Entah kenapa pertanyaan itu masih saja laku diperjualbelikan, untuk diberikan dan dikonsumsi akal sehat.  Semua sepakat, meski terdengar paradoks, bahwa kuliah adalah bentuk usaha mencari ilmu dalam skala universal yang spasial. Untuk urusan dapat pengalaman, relasi, hingga jodoh, itu hanya bonus. Esensi, orientasi, dan substansi dari kuliah, ya demi pengetahuan: nggak perlu dalil soal itu. Gelar juga merupakan keniscayaan. Pengetahuan pun kini dituntut validasi dan verifikasi untuk dunia kerja yang nyaman dan menjamin: bangku perkuliahan menjawab itu. “Nyatanya, orang kuliah belum tentu berilmu. Dan untuk bisa kerja, nggak harus kuliah!” Celotehnya, bersungut menyulut, lagi. Sebelumya maaf, Paduka, mungkin bukan ’belum tentu berilmu’. Karena setiap orang yang hidup di lingkungan akademis, pasti berilmu. Hanya saja, dalam tarafnya masing-masing.  Lalu untuk ’bisa kerja nggak harus kuliah’, itu benar. Gua setuju. Pekerjaan bukan hanya untuk mereka yang sa...

Evolusi

Masa-masa dalam serangkaian ujian seperti ini berdampak pada adem tentramnya suasana pondok. Lembar-lembar kertas kuning, huruf-huruf hija’iyah tanpa harokat, hingga lantunan-lantunan merdu sumbangnya. Sebut saja pada tahap pertama dalam serangkaian ujian ini: tam-tam atau koreksian kitab, mungkin menjadi momen yang membuat para mushonif terharu di peraduan sana. Semingguan itu hanya tentang kitab yang intensif dan merdu. Selayaknya bahwa tam-taman ini selalu dijadikan sebagai momen penebusan dosa bolos, salah jadwal, nggak bawa hitech, hingga tertidurnya: untuk mengisi makna-makna yang bolong terbengkalai. Kali ini mungkin cukup tersadarkan dan berbeda dari musim-musim yang berlalu. Dengan sistem, strategi, metode, konsep, model, tak tik, siasat, atau apapun dalam pelaksanaan pra tam-taman, dalam nembel-menembel yang terjalin antara sesama muta’alimin itu nyatanya terkesan monoton dan klise. Mana revolusionernya, wahai kaum yang mengalir darah pahlawan?! Beruntungnya gua yang hidup di...