Postingan

Sate

Mungkin untuk sekarang dan ke depannya, gua nggak akan pernah tidur malam. Meskipun bukan sama sekali tanpa tidur: ya, sedikit dipindah jam tidur. Karena mempertimbangkan ada kegiatan yang tercantum dalam daily activity schedule, di jam malam hingga subuh dan paginya: bagaimana pun, gua harus lulus Madrasah Qiro’atil Qur’an! Ini tahun terakhir. Udah sampai hafalan terakhir. Do’ain. Sebagaimana layaknya suatu kebiasaan yang terbentuk dari hal yang terbiasa, kegiatan ‘melekan’ ini pun tetap terbawa di hari minggu, di hari yang sebenarnya libur dan longgar. Entah kenapa, jika belum datang siang sebagai jam tidur, kelopak mata akan terus terbuka   dengan sensornya yang terus aktif. Hingga, tepat saja, hari minggu itu memaksa gua untuk berpikir di hari yang sepenuhnya masih dini: kegiatan apa yang dipilih? Selepas subuhan dan lalaran beberapa surat, gua malah merebah, menyelami konten-konten youtube. Apapun, macam-macam. “Eh, bocah, hidup tuh gerak!” Seru matahari yang ...

Tenggelam

Lembar itu dibuka. Pena memulai gurat. Perasaannya bertutur: Malam, apa ini temaram? Apa mungkin tenggelam? Jika seperti itu, tenggelamkan aku dalam gelap, dalam seseorang yang sulit membuatkan terlelap. Hai, bagaimana malammu? Tidurmu pulas? Mimpimu indah? Kita sudah lama sekali tidak berbincang. Atau mungkin, kian hari, kita kian sendiri: masing-masing dan asing. Entah, aku tidak mau menyalahkan siapapun. Meskipun harus jujur, aku sedikit terganggu akan hal itu: aku tak menyukai kebisuan, ia terus menyesakkan. Yah, semua seperti paradoks. Semua serba salah. Seakan menjebak dan mengikat. Aku sama sekali tak menyukai pahitnya kehampaan, tapi di satu sisi, rindu ini kian manis. Itu kenapa kamu mengosongkan dan sekaligus mengisi diri ini. Jikapun kamu tak paham, ya sudah. Sekalipun akan kujelaskan, apa mungkin kita berbincang? Dengan itu, sudikah kau mendengar ceritaku meski barang sejenak? Ya, cerita, bercerita, dan mendengarkan cerita, selalu memiliki tempat tersendiri di h...

Badal

Suatu hari, berhari-hari: sebuah rumah terasa lebih sepi dari biasanya. Meski udah sepenuhnya mengusahakan, tetap saja, salah satu anggota keluarga ‘terpaksa’ harus menempuh jalan lain: meski sendiri dan dingin. Ruang kelas itu lengang, menyisakan satu bangku kosong. Beliau yang akhirnya mendengar juga mengenai kabar itu, hanya bisa mendo’akan yang terbaik baginya dan menguatkan mereka yang tersisa. Bukannya setiap orang memiliki jalan dan cara suksesnya tersendiri? “Sopo sing lungguhe paling buri dewe? Kene maju, isi bangku sing kosong!” Mendengar komando itu, spontan mata khalayak tertuju ke gua. “Ahbat, Pak!” “Ahbat, Pak!” Usaha gua bersembunyi kepala, kayaknya, akan tetap sia-sia. Mau nggak mau, karena beliau, gua harus mengsisi bangku yang baru saja kosong ditinggal oleh empunya. “Ndang maju!” “Nggih, Pak.” Mengangguk, merapihkan kopeah, lalu segera mengangkut segenap kitab-kitab sekaligus alat tulisnya. Berjalan terbungkuk, melewati 4 meja, hingga sesamp...

Paket

Mungkin sering kali kita terbesit mempertanyakan perihal keadilan Tuhan . Sesederhana nggak terbalasnya kebaikan yang kita lakukan. Mana melakukan baik akan diperlakukan baik? Mana siapa yang menanam ia akan menuai? Terasa bagai sebuah sentimen, nyatanya ‘orang-orang itu’ terlalu mendalami peran dari refleksi kalimat, “hidup adalah sebuah perlombaan”. Nggak ada yang salah untuk itu, karena memang setiap lomba memang ditujukan untuk menang. Tapi cara mereka untuk meraih kemenangan: benar-benar menjijikkan dan kekanak-kanakan. Berhasilnya mereka untuk mencapai taraf tingkat sebanding, malah semakin menambah kerakusan egoistik itu. Gua nggak pernah sesekali untuk merasa dendam saat membangunkan ‘orang-orang itu’ agar bisa berangkat MQQ dan lulus tepat waktu, di saat yang bersamaan mereka memberikan tawa puas saat melihat gua yang bangun kesiangan nggak berangkat MQQ dan tentunya nggak dibangunkan. Meskipun nggak secara langsung, wajah-wajah itu menyimpan keterpuasan tanduk...

Peluk

Sebenarnya, apa yang hendak manusia cari? Kenapa semua harus sesuai dengan keinginannya? Seenggaknya, mungkin, ada beberapa hal yang kita jadikan pegangan, kita jadikan acuan. Kita cukup mempercayai sedikit hal, di atas banyak hal yang begitu dicurigai atau bahkan ditolak mentah-mentah. Gua sepenuhnya percaya, bahwa Allah nggak akan membebani seseorang kecuali dalam kesanggupannya. لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا Allah Maha Pengasih, Maha Penyayang: Allah nggak setega itu. Tapi, di saat kita telah meyakini itu dan memeluk erat untuk setiap tantangan-tantangan yang harus dihadapi, terkadang, di suatu waktu, otak malah mengingatkan dalam pikir: sadar, lu itu emang nggak kuat! Hadap tantang tugas yang bertubi itu nyatanya memang menyiksa. Kita dituntut selesai, bukan karena egois. Tapi, ada nasib orang lain yang bergantung di sana. Dan harus diakui, seberapa keras usaha dan memaksakan, bahwa pada akhirnya, kita tetap gagal. Lalu bagaimana maksud ayat itu? Apa ...