Setelah melewati masa serangkain ujian yang penuh lelah dan secuil liburan yang membuat jengah, semester 2 dengan segera menyapa KBM madrasah diniyah dan hati-hati yang gerah. Bagi sebagian orang, semester 2 bisa diartikan dengan berbagai hal. Mungkin senang dan antusias, juga biasa saja atau malah lemas. Ya, semakin ke jenjang tahun akhir pelajaran, semakin kencang pula penekanan: makna kitab atau malah hafalan nadzom. Tapi gua nggak akan membahas itu kali ini. Ada hal lain yang sekiranya, ya, cukup mood untuk coba menuliskannya di sini: sebuah kejadian yang penuh ajaib! Keajaiban itu menimpa suatu kelas yang memiliki suhu ruang lebih hangat dari leher orang yang udah seminggu meriang. Seperti biasa, malam itu berjalan hambar sebagaimana mestinya. Hingga, suatu pengumuman disampaikan oleh yang punya wilayah, Rois Amm’. “Berhubung kita sudah memasuki semester 2, saya sebagai Rois Amm’ akan membentuk kepengurusan rois yang baru sebagai bentuk regenerasi dan pemberian kesempatan ba...
Bagi s ebagian orang, malam minggu memiliki kesannya tersendiri. Penuh dramatis. Hingga, begitunya dengan malam minggu kali ini. Sering termaknai secara mutlak, malam minggu pasti bernuansa ngeri . N geri-ngeri sedap. Bagi santri, terutama santri pondok ini : f ull mustahiq untuk permadrasah diniyahan dan tamrin. Siswa nggak boleh gentar! Apalagi untuk resolusi sukses nyewu seangkatan, membuat orang-orang ini menjadi korban dari pelampiasan macam-macam strategi sistem pembelajaran: termasuk konsekuensi dan hukuman. Pikiran, lalaran, dan hafalan-hafalan. Nggak boleh kendor! Setelah lihat hasil dan kembali bongkar pasang, sampainya pada strategi sistem pembelajaran yang kesekian dengan diperkelompokkan dan harus hadap setoran 1002 bait itu. Meski tetap disimak diloncat diacak, nah itu! Hingga, dari 7 orang yang namanya sekitaran abjad A, diputuskan masuk kel o mpok satu dan kebagian jadwal setoran di malam minggu, malam ini. Siap nggak siap, langsung hadap! Karena tentu harus...
Malam jum’at ini, campur aduk perasaannya: sedari info orang rumah, novel senja bucin geli, napak tilas pondok petuk, laga tandang Persija, dan terakhir adalah undangan acara literasi asrama Asy-Syafi’i. “Kenapa gua? Kan Rohman, Said, lu, kan jebolan Syafi’i?!” Tanya gua protes, pada nama-nama yang sepatutnya, seharusnya, dan sepantasnya. “Ya, nggak enaklah, Bang. Kesannya jadi gimana gitu, udah nggak asing. Lagian anak-anak juga pada mintanya lu kok.” “Bisa aja lu!” Cukup bingung dengan alasan itu, gua udah malas ngomong jatuhnya. “Yaudah, atur aja!” Teknis acara dijelaskan tepat di saat acara itu digelar nanti malam. “Hidup yang tidak dipertaruhkan, tidak akan pernah dimenangkan!” Begitu ucap Bung Sjahrir. Kalau nggak karena kata-kata itu, malas juga gua berangkat. Karena memang, rasanya ini bukan hak dan kewajiban gua. Tapi yah, hitung-hitung nambah wawasan, pengalaman, dan relasi: tentu upgrade skill dan pencapaian. Maksud undangan itu adalah pengarahan, gua malah b...
Komentar
Posting Komentar