Aa

Selama nafas hidup saya, tidak ada sekalipun sekelumit ruang untuk benar-benar membenci suatu aktivitas yang bernamakan jalan kaki. Sungguh. Malah saya begitu menyukai kegiatan ini sejak lama.

Hingga akhir-akhir ini, di sepeninggal sakitnya Tejo, saya jadi sering jalan kaki.

Momen itu berlangsung, untuk salah satu hal yang tersoroti.

Bahwa sejatinya kita kesal dengan seorang pengemis. Ada suatu ketidaksukaan, hingga usaha menghindarkan hati. Terlebih pengemis itu tampak sehat dan mampu bekerja.

“Orang masih kelihatan kuat kok malah ngemis?!”

Mungkin seperti itu kira-kia kekesalan hati ini.

Tapi nyatanya, untuk sebuah realita lain, untuk orang-orang yang tetap berjuang, bekerja, menolak untuk mengemis. Bukan manis, nasib malah tetap berpihak tragis.

Kita tentu saja kerap menemui dan menyaksikan para pedagang dengan komoditas dagangan yang tidak begitu menjanjikan; kue basah, rujak buah, ikan hias, atau beberapa bidak lumpang batu ulegan, yang tidak sedikit mereka menjual-menjajakan itu semua dengan didorong, dipinggul, berkeliling.

Dan kenyataan yang lebih mengenaskannya lagi adalah, bahwa masih banyak dari mereka itu merupakan orang tua lanjut usia, suatu ukuran umur yang seharusnya tinggal hanya menikmati hidup, bukan malah repot banting tulang berebut pikir dan perut “Besok makan, apa?” atau bahkan “Apakah besok masih bisa makan?”

Dan kita, hanya bisa melihat itu sebagai fenomena sosial saja.

Lantas berlalu, melanjut hidup dan nasib baik.

Mana keadilan itu?

Mana nurani iu?

Sedekah yang paling baik dan mulia untuk para pedagang adalah dengan membeli dagangannya.

Saya berpasrah uang kantong pelajar.

Jika tidak, sisanya hanya bisa merutuki diri dengan menggenggam perihnya hati, untuk do’a-do’a yang terlantun dengan tulus.

Saya tidak ingin berdiam diri.

Semoga banyak kesempatan baik untuk menikmati kebaikan: bersama.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aneh

Baik

Dosa