Bagi saya, KKN adalah momen yang aneh. Hal-hal dasar yang sasar; abstrak dan acak, fundamen sekaligus sentimen. Menelisik jauh ke ruang penuh raung, palung yang belum tentu membawamu pulang: dalam, kelam, sunyi, sepi, sendiri. Apa yang kau tau? Apa yang bisa kita terka? Kaki dan langkah, tangan dan genggam, hidung dan ambu, mata dan lihat, telinga dan dengar, kulit dan raba, lidah dan kecap, otak dan pikir, juga hati dan rasa. Hingga dalam selarik kalimat, yang katanya, ‘Kuliah Kerja Nyata’. Kuliah berarti belajar. Kerja berarti pengaplikasian dari apa yang dipelajari. Nyata berarti dengan sepenuh pengabdian. Lalu, apa? Kata, makna, semuanya aneh. Belum lagi orang-orangnya dengan semua sifat-sikap, ucapan dan tindakannya. Sok merasa paling memahami orang lain, merasa paling berdampak. Padahal sebenarnya, lebih dari itu, seberapa kenal ia dengan dirinya sendiri? Apa yang telah ia lakukan untuk dirinya sendiri? Self-improvement mana untuk rancangan, pelaksa...
Setelah melewati masa serangkain ujian yang penuh lelah dan secuil liburan yang membuat jengah, semester 2 dengan segera menyapa KBM madrasah diniyah dan hati-hati yang gerah. Bagi sebagian orang, semester 2 bisa diartikan dengan berbagai hal. Mungkin senang dan antusias, juga biasa saja atau malah lemas. Ya, semakin ke jenjang tahun akhir pelajaran, semakin kencang pula penekanan: makna kitab atau malah hafalan nadzom. Tapi gua nggak akan membahas itu kali ini. Ada hal lain yang sekiranya, ya, cukup mood untuk coba menuliskannya di sini: sebuah kejadian yang penuh ajaib! Keajaiban itu menimpa suatu kelas yang memiliki suhu ruang lebih hangat dari leher orang yang udah seminggu meriang. Seperti biasa, malam itu berjalan hambar sebagaimana mestinya. Hingga, suatu pengumuman disampaikan oleh yang punya wilayah, Rois Amm’. “Berhubung kita sudah memasuki semester 2, saya sebagai Rois Amm’ akan membentuk kepengurusan rois yang baru sebagai bentuk regenerasi dan pemberian kesempatan ba...
Tidak ada padanan kata yang tepat, yang sempat, untuk dan di hadapan blog yang terhitung 64 hari; 2 bulan tak tersapa. Sungguh ini kegagalan yang besar. Sungguh itu kekecewaan yang berat. Penulis tidak lagi menulis. Tidak dapat dipungkiri untuk sebuah tulisan yang menjadi bacaan, sebuah bacaan yang seharusnya dibaca. Saya tidak tau persis, siapa yang akan membaca tulisan-tulisan di blog ini, berapa orang, kenapa mereka kesini dan membaca. Bahkan untuk, apakah ada yang membaca? Apakah tulisan-tulisan ini bermanfaat? Apakah tulisan-tulisan ini ada pembaca setia dan menunggu-menyesal jika saja sampai terlambat terbit? Sejauh ini, yang bertanya pun tidak. Atau mungkin, tau pun belum tentu. Tapi satu hal: blog ini dengan semua tulisannya, sangat amat berarti bagi saya. Tidak ada tulisan yang buruk. Setiap tulisan, setiap bacaan, memiliki pasar bacanya masing-masing. Memiliki pembacanya masing-masing. Jika kalian tidak suka pun, ya tidak apa-apa. Berarti kalian bukan termasuk...
Komentar
Posting Komentar