Postingan

Dompet

Kala itu, menjadi sebuah pembelajaran: bahwa seenggaknya kita, harus sadar. Buku itu menjadi titik awal yang penting, sebuah usaha untuk mencoba memeluk diri sendiri. Entah kenapa, dari sekian pembahasan hebat, penjelasan itu terasa begitu mengena, membekas dan menyisakan renung. Dari sebuah buku yang berjudul, “Jatuh Cinta Kepada-Nya” , Dr. Fahruddin Faiz tampak terampil saat menyajikan pemikiran yang benar-benar membuat berpikir, pemahaman yang benar-benar membuat paham. Sebuah konsep luar biasa dari  Rabi’ah al-Adawiyah, seorang sufi perempuan yang menjadikan cinta sebagai jalan nafas hidupnya, perihal suatu hal yang dinamakan ’ridha’. Ada  kutipan menarik yang coba gua jelaskan pribadi, bahwa “Tidak masalah jika kita berdo’a agar Allah ridha kepada kita. Di sisi lain, padahal Allah sangat sayang kepada hambanya, sudah jelas Dia ridha. Tapi pernahkah kita sesekali berpikir, bukan berdo’a menuntut agar Allah bisa ridha kepada  kita, tapi kitalah yang bisa ridha kepada A...

Jumawa

Dari sekian rumah yang temaram, rumah satu itu unik; alarm sahurnya berbeda dari yang lain. “Oweeek... Oweeek...” Sepetak rumah berhiaskan 3 ekor cicak di dinding terasnya itu, tak memiliki jadwal sahur yang tetap. Sesekali mengambil kesunahan di akhir, seringnya melawan kantuk di awal. Sang ibu terlihat cekatan mempersiapkan belaian, sang ayah pun tanpa ragu ikut membantu buaian. Cukup sebaskom peluk bercentong mesra dan beberapa potong kecup yang masih mengepul hangat, di meja makan, mereka memulai sahur dengan do'a sederhana yang dibaca lirih, sungguh: “Sebagaimana kami menyayangimu, semoga kau pun menyayangi kami kelak; selalu.”

Gerbang

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ عَلَى أُمُورِ الدُّنْيَا وَالدِّينِ، وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلىَ أَشْرَفِ الـمُرْسَلِينَ وَعَلىَ آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْـمَـعِينَ، أَمَّا بَعْدُ Para hadirin hadirat rahimakumullah… Alhamdulillah, selangkah demi selangkah, hingga telah sampai di penghujung bulan suci Ramadhan. Marilah kita terus berpegang erat, mengisi setiap nafas tindakan kita dengan ibadah dan ketaatan. Kita terus berusaha, berlomba-lomba dalam kebaikan. Pada kesempatan kultum kali ini, kita akan membahas tentang... Haha. Gua rasa, blog ini nggak memberi dampak sama sekali di bulan Ramadhan ini. Nggak ada andil dalam semarak tarbiyah di dalamnya. Nggak ada yang bisa diambil sebagai pelajaran. Blog yang hanya berisikan keluh-keluh dan cerita ringan yang, ya, hanya pelegaan diri. Sekedar itu.  Ada satu hal yang mengganjal, membebani. Dengan ini, di edisi tulisan ini, nggak apa-apa ya kita sedikit bahas pelajaran. Sedikit aja kok. Untuk mengawali atau bah...

Malam

Di malam sepuluh terakhir bulan Ramadhan, ia mengharap Lailatul Qadar. Di setiap malam, ia mengharap Lailatul Inayah. “Kenapa begitu? Bukannya Lailatul Qadar lebih baik dari 1000 bulan?” Tanya siang tak tau apa-apa, tak diajak. Mulai nggak seru, mainnya nominal; kalkulatif. “Lailatul Qadar yang lebih baik dari 1000 bulan itu hanya 83 tahun 4 bulan. Sedangkan Lailatul Inayah itu dunia-akhirat.” Siang mengangguk-angguk, tampak paham. “Itu juga kalau dapat.” Lanjutnya, kurang pede.

Pagi

Melek dan terjaga di waktu pagi bulan Ramadhan adalah perjuangan. Di satu sisi, saat malam dijadikan waktu untuk memadu kasih bersama-Nya, bersembah bersujud, menghidupkannya dengan qiyamul lail; tidur sehabis subuh adalah godaan dan kenikmatan yang nyata sekaligus.  Gelombang itu sangat besar. Meskipun kita tau, bahwa selalu ada ikan besar di tarikan besar, selalu ada ganjaran besar di setiap cobaan besar. Dengan itu, satu hal yang gua peluk dari terjaga di waktu pagi, adalah awal penentu untuk hari yang berjalan dengan baik-baik saja. Ya, bangun dan memilih untuk memulai beraktivitas di waktu pagi, sangat menentukan nasib baik kita di hari itu. Mood yang baik di hari itu; bagi gua. Tapi di satu sisi, hal yang menuntut kita untuk bangun dan beraktivitas, waktu pagi adalah momentum dibukanya pintu rezeki. Itu mengapa, Nabi Muhammad Saw bersabda: اللَّهُمَّ بَارِكْ لأُمَّتِى فِى بُكُورِهَا “Ya Allah berikanlah berkah kepada umatku di pagi hari mereka.” (HR. Tirmidzi). Itu mengapa, p...

Main

Di sepasang ayunan taman kota, mereka berdua bernama Ana dan Ina. “Main masak-masak, yuk?!” Ajak Ina. “Tapi aku laki-laki.” Jawab Ana, bingung. “Aku orang Arab, bukan ngapak.” Lagi, Ana meyakinkan, meski tak yakin. “Jangan ajak aku berpikir, Ana. Aku hanya ingin main denganmu; hanya denganmu.” Mereka unik, penulis kesemsem.

Ngaji

Kiranya, ini bukan hanya sekedar pesantren, bukan soal mondok dan santri, juga Ramadhan dan dalil-dalil. Tapi satu hal yang berusaha terus kita pegang: “Bukan di mana kita belajar, tapi bagaimana cara kita belajar!” Itu kenapa, pembahasan mengaji jadi begitu penting. Mengaji itu penting, belajar agama itu penting; itu kenapa, pembahasan ini jadi begitu penting. Tapi anehnya, nggak sedikit orang yang belum, atau nggak, atau bahkan menolak untuk sekedar sadar akan hal ini. Berdiam diri hingga menyalahkan. Mengaji itu penting, bukan yang penting ngaji. Lagi-lagi, ini bukan hanya sekedar pesantren, bukan soal mondok dan santri, juga Ramadhan dan dalil-dalil: nggak usah tegang, nggak usah kaku-kaku. Mengaji itu soal belajar. Mengaji itu soal membaca dan menulis. Mengaji itu soal memahami dan menerapkan. Mengaji itu soal individual-spasial, sosial-universal. Mengaji adalah arti pahit manis sebuah proses kemanusiaan dan kehambaan. Meski mengaji, belajar agama nggak harus soal kitab kuning dan...