Abadi

Dari kerja keras usaha mengejar sampai ke Semarang untuk pertemuan pertama saya dengan Pasar Literasi, kali ini malah menyapa Kediri.

Bertempat di Kediri Mall, saya tidak bisa berleluasa waktu karena durasi maksimal hanya sampai tanggal 9 mei. Hal menyebalkan yang menghambat saya untuk menyapa kembali dengan Pasar Literasi adalah soal ketahanan manejemen yang harus tetap balance dari turbulensi akhir bulan.

Dan hal itu beru terwujud di awal bulan.

Sebenarnya niat awalnya ya mencari buku, belanja buku bulanan. Itu kenapa juga Gramedia tetp masuk list wajib dalam kesempatan ini. Tapi karena ada momen Pasar Literasi ini, saya menyapanya lebih dulu.

Dengan Rendy, menaiki maxim, sampailah kami.

Masuk.

Berputar-putar.

Eskalator satu ke eskalator lainnya.

Bertanya satpam.

Sampai.

Kami menyelam, mengarungi buku demi buku yang penuh damba.

Buset! 

Sedari sedikit berpindah-pindah, Rendy menumpuk 4 buku di tangannya, sedari hal yang awalnya ia bilang ”lihat nanti ajalah bang. Lagian saya kan Cuma nemenin” terdengar ogah dari ajakan-keharusan untuk turut ikut belanja buku.

Saya belum mendapatkan satupun, untuk waktu yang masih dini.

Saya sedikit merasa tersinggung.

”Ini ada diskonan nggak, Bang?”

Dari 4 buku itu, sedikit celoteh-celoteh kecilnya semakin saya merasa sebal dengannya. Meski sebenarnya ia memang tipe orang yang recet dan rempong.

“Nggak tau. Tanya aja kasirnya. Emang gua yang jualan?!”

Ia berlalu.

Ia kembali dengan struk pembayaran bernilai 340 sekian, hampir 350 ribu. Mukanya agak kusut. Ada kebahagiaan yang bisa saya dapatkan dari sisi sebal. Saya paham betul, bahwa ia tidak terima dengan harga itu, ia juga tidak bisa menyingkirkan buku-buku pilihannya. Padahal kan kalau emang keberatan, tinggal dikurangi saja bukunya. Atau setidaknya, ganti dengan buku lain yang lebih bersahabat. Apa susahnya.

Tapi, begitulah ia. Terkadang memang tampak bodohnya saat harus memutuskan di situasi yang sempit, dari hal yang tidak sesuai dengan rencana dan ekspetasinya.

Biarlah.

Toh tidak ada yang rugi dalam berinvestasi dengan buku.

Saya melanjutkan menyelam.

Sampai saya bertemu dengan salah satu buku sejarah, perihal kekejaman kolonialisme di Indonesia, dengan cover dan desain yang bagus, ukuran besar, terbitan KPG. Terlihat menjanjikan dengan isi sinopsis dan harganya.

Saya mengangkutnya.

Pas, saya menganggar 1 buku saja dalam perburuan kali ini. Under 150 k.

Tapi untungnya, buku itu seharga 95 k.

Dan beruntung untung untungnya, saya menemukan Le Petit Prince.

Kamutau buku itu?

Ya susudahlah!

Sampai bertemu di hari kamis!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Baik

Aneh

Dosa