Pagi
Melek dan terjaga di waktu pagi bulan Ramadhan adalah perjuangan. Di satu sisi, saat malam dijadikan waktu untuk memadu kasih bersama-Nya, bersembah bersujud, menghidupkannya dengan qiyamul lail; tidur sehabis subuh adalah godaan dan kenikmatan yang nyata sekaligus.
Gelombang itu sangat besar.
Meskipun kita tau, bahwa selalu ada ikan besar di tarikan besar, selalu ada ganjaran besar di setiap cobaan besar.
Dengan itu, satu hal yang gua peluk dari terjaga di waktu pagi, adalah awal penentu untuk hari yang berjalan dengan baik-baik saja.
Ya, bangun dan memilih untuk memulai beraktivitas di waktu pagi, sangat menentukan nasib baik kita di hari itu. Mood yang baik di hari itu; bagi gua.
Tapi di satu sisi, hal yang menuntut kita untuk bangun dan beraktivitas, waktu pagi adalah momentum dibukanya pintu rezeki. Itu mengapa, Nabi Muhammad Saw bersabda:
اللَّهُمَّ بَارِكْ لأُمَّتِى فِى بُكُورِهَا
“Ya Allah berikanlah berkah kepada umatku di pagi hari mereka.” (HR. Tirmidzi).
Itu mengapa, perempuan itu cerewet sekali:
“Kamu jangan tidur subuh!”
Lalu ia cerita referentitatif menguatkan; dampak, dan hal-hal yang menyeramkan.
Tanpa perlu ia cerewet dan bercerita menakut-nakuti pun, sejatinya gua udah mempercayai hal itu, bahwa tidur subuh itu nggak baik. Meskipun ya, pengertiannya tetap gua terima, tetap berpengaruh.
Gua yang nokturnal, ditantang bijak memanagement waktu; segala hal yang solutif dan preventif.
“Nanti kamu merasakan sendiri hasilnya!” Lagi, suportif.
Ya, gua menerimanya lapang dada.
Satu hari, dua hari, tiga hari, berhari-hari, menyusuri setiap dari benang Ramadhan yang dijahit lembut, padu; hidup berjalan semestinya.
Sampai pada akhirnya, satu notif chat, yang kedua dan beberapa menyapa: sebuah kabar gembira, THR cair lebih awal. Ada yang bilang buat beli baju lebaran, buat jajan, atau hanya sekedar ditabung. Itu bahasa mereka. Entah. Ya, alhamdulillah.
Selain itu, perihal angka nominal dan siapa yang memberi, itu agak sulit diterima kenyataan. Nggak seperti biasanya. Cukup membingungkan. Ada hal yang membuka ruang untuk mengingat beberapa kejadian dan membandingkan. Tapi bagaimanapun itu, ya, tetap disyukuri.
“Mungkin ini hasil yang dimaksud?” Gua menerka, dari ucapannya, dari waktu pagi.
Di sisi lain, gua malah teringat salah satu kutipan ceramah Gus Baha, perihal Nabi Muhammad Saw yang mengadu kepada Allah, yang cemburu dengan Nabi Sulaiman yang bergelimang nikmat, mulai dari kekayaan, pangkat kerajaan, hingga dapat menundukkan hewan, jin, dan angin.
Kata Gus Baha, “Allah berkata, bahwa keagungan nikmatmu itu, Muhammad, aku berikan pada waktu keseharianmu.”
Kurang lebih begitu.
Jadi, Nabi Muhammad Saw dan kita selaku umatnya, diberikan nikmat oleh Allah adalah jenis nikmat-nikmat keseharian. Kita bisa beraktivitas, makan bersama, bertegur sapa, bercanda, waktu yang bermanfaat, project-project yang tercapai, atau seenggkanya dapat tidur nyenyak. Itu nikmat yang sangat berarti. Itu nikmat yang lebih agung dari nikmat-nikmat hebat yang Allah berikan kepada Nabi Sulaiman As.
Hanya saja kita nggak menyadari itu.
Kita masih saja hitung-hitungan dengan Allah.
Itu yang membuat kita sulit bersabar dan bersyukur.
Dengan itu, apa kabar waktu paginya?
Komentar
Posting Komentar