Ngaji

Kiranya, ini bukan hanya sekedar pesantren, bukan soal mondok dan santri, juga Ramadhan dan dalil-dalil.

Tapi satu hal yang berusaha terus kita pegang:

“Bukan di mana kita belajar, tapi bagaimana cara kita belajar!”

Itu kenapa, pembahasan mengaji jadi begitu penting.

Mengaji itu penting, belajar agama itu penting; itu kenapa, pembahasan ini jadi begitu penting.

Tapi anehnya, nggak sedikit orang yang belum, atau nggak, atau bahkan menolak untuk sekedar sadar akan hal ini. Berdiam diri hingga menyalahkan.

Mengaji itu penting, bukan yang penting ngaji.

Lagi-lagi, ini bukan hanya sekedar pesantren, bukan soal mondok dan santri, juga Ramadhan dan dalil-dalil: nggak usah tegang, nggak usah kaku-kaku.

Mengaji itu soal belajar.

Mengaji itu soal membaca dan menulis.

Mengaji itu soal memahami dan menerapkan.

Mengaji itu soal individual-spasial, sosial-universal.

Mengaji adalah arti pahit manis sebuah proses kemanusiaan dan kehambaan.

Meski mengaji, belajar agama nggak harus soal kitab kuning dan pesantren; tapi, mengaji dan belajar agama seperti apa yang tanpa kitab kuning dan pesantren?

Kitab kuning soal pengarang.

Pesantren soal pengajar.

Hingga, pelajar dapat menapaki jalan garis keilmuan yang jelas dan terjaga: ilmu yang bermuara dari tempat yang murni, akan terasa lebih manis dan menyegarkan.

Jadi nggak perlu berpanjang lebar, capek-capek menarik urat leher dan berbusa mulut untuk membahas perihal barokah. 

Tetap harus kita jaga kewarasan tenggorokan puasa yang kerontang itu, juga semerbak nafas mulutnya.

Lagipula, nggak perlu kaget untuk kita yang bernafas di agama yang sarat atas hal-hal metafisik fundamental keimanan: neraka-surga, pahala-dosa, malaikat-iblis, alam kubur dan hari kebangkitan, hingga bahkan ketuhahan itu sendiri.

Atau sains tentang ruh?

Lantas, apa?

Kan sudah dibilang: makanya ngaji! 

“Jika suami tidak belajar agama, dia akan mendidik istri dengan apa? Jika istri tidak belajar agama, dia akan mendidik anak dengan apa? Jika anak tidak belajar agama, dia akan mendoakan orang tuanya dengan apa?”

Selamat Ramadhan!


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Termometer

Semut

Kepompong