Entah siapapun itu, sebut saja namanya tumis kangkung. Di akhir siang menuju sore, jari jemari itu dipeluk dua potong bibir yang sedikit memerah dan tentu berminyak: entah, rasa lapar terkadang bisa begitu mudah untuk menghargai setiap makanan, tanpa memandang kasta dan strata. Berdirinya ia sehabis makan, gagah tegap: tangan kanan menunjuk langit dan tangan kiri mengkruwek tipis kertas nasi tandas penuh licin . “ Buang sampah itu pada tempatnya .. .” Ucapnya mendikte pada khalayak. Khalayak menerka. “ Tapi, kalau tempatnya nggak ada?” Lanjutnya, menggantung, mematung. Kruwek sampah kertas nasi itu dibuang sia-sia, sembarangan: sebagai jawaban. Meski sepenuhnya, terasa ada sedikit yang salah, entah apa, mulut-mulut itu terkatup mencari pembenaran, melerai semrawut otak yang tiba-tiba ikut terkruwek-kruwek selaras kertas nasi malang itu. Kemudian, lagi-lagi, semua belum selesai. “Lagian nggak setiap hal buruk itu buruk, nggak setiap hal buruk tanpa baik. Coba deh pi...